Masta UNIMUS 2018, IMM Hadirkan Staf Khusus Presiden

Semarang | Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menyelenggarakan Masa Ta’aruf (MASTA) bagi mahasiswa baru (MABA) tahun akademik 2018/2019. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Jumat (7/9) sampai dengan Sabtu, More »

Takmir dan Masjid Kampus Unimus Diresmikan 2018

Kedungmundu -UNIMUS | Ketua PW Muhammadiyah Jateng Drs Tafsir MAg dan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof  Dr Masrukhi MPd meresmikan Lantai Utama Masjid At Taqwa Muhammadiyah Jateng (dua setengah lantai) di More »

 

BAPS WISUDA UNIMUS KE 28 TH 2017-2018

BAPS WISUDA KE 28 TH 2017-2018
Tgl : Senin 30 April 2018, Rabu/Jumat 2-4 Mei 2018 (4 Gelombang) Tempat : Gedung NRC Ruang 408 Lt IV

WORKSHOP KURIKULUM AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) 2018

Kedungmundu semarang 2018| pada tanggan Kamis-Jum’at
5-6 April 2018 Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) mengadakan workshop kurikulum penciri yakni Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Worshop bertempat di Gedung Serba Guna labkes Fikkse Unimus. Kegiatan workshop ini di hadiri oleh peserta dari pakar di bidangnya dan dekan, kaprodi dan pimpinan Universitas, dan peserta sangat antusias dalam acara iniKurikulum AIK menempati posisi dan fungsi yang sangat penting pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (PTM/A). AIK menjadi ruh dan nafas bagi pembentukan karakter mahasiswa. Menyitir ucapan KH. AR. Fahruddin di atas, AIK harus menjadi karakter dari gerakan berkemajuan Muhammadiyah, gerakan yang tercermin pada sikap yang empati, berpandangan luas, serta mampu menjadi driving force (kekuatan penggerak perubahan) atau dalam kata lain, kurikulum harus senantiasa menyesuaikan diri deng an perkembangan peradaban manusia, jika itu ditarik dalam kehidupan PTM/A, maka AIK harus terus menyesuaikan perkembangan Muhammadiyah.  Dalam konteks itu maka peninjauan dan penyusunan kurikulum AIK unimus merupakan sebuah keniscayaan selaian karena betapa pentingnya kurikulum AIK menyesuaiakan perkembangan kodisi sosial baik di internal maupun eksternal Muhammadiyah. . Reportase Mamdukh Budiman

BEDAH BUKU | ETIKA MUHAMMADIYAH DAN SPIRIT PERADABAN

Semarang Kedungmundu  Kamis (08/02/2018) | Salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, sudah satu abad lebih berkiprah dalam pemberdayaan masyarakat, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Dalam kiprahnya tersebut, Muhammadiyah melakukannya dengan etos kerja dan spirit surat Al – Maun dan Al – Ashr yang ditekankan sejak lama oleh Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Spirit surat Al – Maun dan Al – Ashr itu sendiri diulas secara khusus oleh Prof. Dr. H. Zakiyyudin Baidhawy, M.Ag dalam bukunya yang berjudul “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban”. Unimus sendiri telah mendapatkan kesempatan bedah buku bersama direktur pascasarjana IAIN Salatiga tersebut di Masjid At Taqwa Muhammdiyah Semarang pada Kamis 8 Februari 2018. Tutur hadir pula Wakil Rektor I Dr. Sri Darmawati, M.Si., Wakil Rektor II Dr. Hj. Sri Rejeki, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat, serta Wakil Rektor III Drs. Samsudi Rahardjo, MM. MT untuk mengapresiasi acara tersebut.

Zakiyyudin menyebut bahwa keseluruhan gerakan Muhammadiyah dikenal dengan istilah trisula yakni feeding, schooling, dan healing. Dari aspek pendidikan, Muhammadiyah telah mendirikan lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi besar termasuk Unimus. Muhammadiyah juga telah memiliki klinik kesehatan dan rumah sakit (aspek kesehatan), serta adanya Lazismu di aspek sosial ekonomi.

“Keseriusan Kiai Dahlan dalam menanamkan etos kerja dari surat Al – Maun dan Al – Ashr bisa dilihat dari lamanya pengajaran dua surat ini. “Surat al-Ma’un selama 3 bulan berturut-turut sedangkan surat al-Ashr diajarkan selama 7 bulan. Oleh karenanya Kiai Dahlan dikenal sebagai kiai al-Ashr.” ulasnya.

Dalam etos kerja surat Al – Maun, Zakiyyudin menyatakan bahwa umat islam harus punya sikap kritis dan peduli terhadap kehidupan disekitar. Sebagai contoh pada saat itu Kiai Dahlan mengajak muridnya untuk keluar melihat lingkungan sekitar, dimana banyak anak yatim. Kiai Dahlan tidak membiarkan anak yatim pulang kecuali membawa makanan, minuman, bahkan pakaian untuk kebutuan sehari-hari. Sementara etos kerja surat al-Ashr, berisi alternatif apa yang diberikan terhadap sesuatu yang dikritik sebelumnya. Al-Ashr inilah etos yang menggerakkan Muhammadiyah untuk mandiri dan berdaya terhadap masyarakat. Dengan kata lain, Al-Ashr memberikan jawaban atau kepedulian dari Muhammdyah.

Kajian tersebut nantinya akan mempertegas peran segenap kader dan aktivis Muhammadiyah dalam memajukan Muhammadiyah dengan semangat Islam berkemajuan. Spirit kerja keras dan kerja cerdas ini, bisa menjadi konstribusi penting Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan Negara