UNIMUS PERKUAT KARAKTER AGAMA MAHASISWA MELALUI KEGIATAN STADIUM GENERAL MENTORING AIK 2016

SEMARANG | 9 September 2016 Bertampat di Masjid At – Taqwa Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) membekali mahasiswa baru tahun akademik 2016/2017 dengan sejumlah kegiatan peningkatan akhlak dan karakter mulia di antaranya dengan Studium More »

 

PENYAKIT FISIK DAN HATI

JENIS penyakit ada dua macam: Penyakit hati dan penyakit fisik.(1) Keduanya telah termaktub dalam Al-Qur’an.

Adapaun penyakit hati ada dua macam: Penyakit syubhat yang disertai dengan keragu-raguan dan penyakit syahwat yang disertai dengan penyimpangan. Keduanya termaktub dalam Al Qur’an. Allah Swt berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah [2]: 10)

Allah Swt berfirman, “Supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.’ ” (AL-Mudatsir [74]: 31)

Allah Swt berfirman tentang hak orang yang diajak untuk tahkim (sumpah dengan mengangkat Al Qur’an) dengan Al Qur’an maupun asSunah kemudian menolak dan berpaling, “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul mengadili diantara mereka, tiba-tiba sebagaian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi, jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan merke itu karena) dalam hati mereka ada penyakit atau (karena) mereka ragu-ragu atau (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka. Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (An-Nur [24]: 48-50).

Inilah contoh penyakit syubhat yang disertai dengan keraguan. Adapun penyakit syahwat yang termaktubl dalam Al-Qur’an adalah firman Allah Swt berikut, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekaliah tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa, janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab [33]: 32)

Inilah bentuk penyakit syahwat zina. Wallaahu a’lam.

(1) Doktor ‘Adil A;-Azhari mengatakan, “Dalam pembagian ini terdapat hikmah ilahiyah dan banyak kemukjizatan. Dimana para dokter belum pernah sampai pada hal itu kecuali setelah zaman modern pada pertengahan abad 18 Secara umum penyakit terbagi menjadi dua macam:

Penyakit fisik (badan), yaitu penyakit yang diakibatkan karena sebagian organ tubuh tidak menjalankan fungsinya dengan sempurna, atau tidak berfungsi sama sekali. Bisa jadi karena masuknya kuman yang bermacam-macam ke dalam tubuh sehingga menjadikan organ tubuh rusak. Dengan begitu muncullah gejala-gejala penyakit. Semua penyakit anggota tubuh mempunyai gejala, sejarah,  sifat-sifat, dan komplikasi-komplikasi khusus sehingga kita bisa membedakan antara penyakit-penyakit fisik dan membuat spesifikasi dari masing-masing penyakit tersebut. Inilah yang dimaksud dengan penyakit fisik (badan) sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Saw. Di antara penyakit ini: lumpuh, penyakit lever, penyakit kuning, demam, dan lain sebagainya.

Penyakit psikis (jiwa): Pada realitanya penyakit ini merupakan gejala penyakit-penyakit yang beragam jenisnya dan dirasakan oleh penderita. Biasanya setelah diadakan pemeriksaan oleh dokter dengan menggunakan berbagai alat yang lazim, seperti sinar laser dan pelbagai analisis. Kondisi fisik penderita normal, yakni si penderita tidak mengalami penyakit fisik. Gejala ini merupakan implikasi dari faktor-faktor eksternal yang terjadi dalam kehidupan, seperti: dicekam ketakutan, keraguan, mabuk cinta, tidak adanya kepuasan dalam seksualitas, depresi, dan lain sebagainya. Inilai yang disebut dengan penyakit hati sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Saw. Adapun hikmah pembagian jenis penyakit menjadi penyakit syubhat yang disertai dengan keragu-raguan, dan penyakit syahwat yang disertai dengan penyimpangan, semua ada hikmah tersendiri berdasarkan teori (penelitian) modern dalam ilmu Kejiwaan (psikologi).

Sumber: Penyembuhan berbagai penyakit cara Nabi./Oleh: Ibnu Qqyyim Al-Jauziyyah

Al Qur’an Berbicara Tentang Makanan

Makanan yang cocok dan pelengkapnya merupakan pilar kesehatan tubuh paling penting. Al Qur’an memiliki beberapa isyarat tentang makanan yang dengan kemukjizatan dan kefasihannya menunjukkan kepada pokok-pokok yang harus terpenuhi supaya manusia dapat menghasilkan apa yang seharusnya ia dapatkan dari unsur-unsur penting untuk bangunan tubuhnya tanpa kekurangan atau berlebih-lebihan. Setiap hari sejumlah penemuan ilmu pengetahuan modern menyingkapkan kepada kita kedalaman dan kemukjizatan yang lain pada isyarat-isyarat tersebut.

Kita memulai makan dengan buah-buahan terlebih dahulu. Di dalam kitab-Nya, Allah mendahulukan buah-buahan daripada daging. Dia berfirman,

“Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (Al-Waaqi’ah:20-21)

“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini” (Ath-Thuur: 22)

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma karena itu keberkahan.”

Mengkonsumsi buah-buahan sebelum menu makanan yang lain, memiliki beberapa manfaat kesehatan yang baik. Karena, buah-buahan mengandung zat gula alami, gampang dicerna, dan cepat diserap. Usus hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyerap zat ini, sehingga tubuh menjadi langsung lega, gejala kelaparan dan kekurangan zat gula pun hilang. Padahal orang memenuhi lambungnya secara langsung dengan makanan yang bermacam-macam membutuhkan waktu lebih kurang tiga jam, hingga ususnya baru bisa menyerap makanan yang mengandung unsur gulanya. Namun, tanda-tanda laparpun tetap terasa untuk jangka waktu lebih lama.

Zat gula yang alami di samping gampang dicerna dan cepat diserap, juga merupakan sumber energi yang pokok bagi sel-sel tubuh yang berbeda-beda. Di antara sel-sel yang dapat mengambil manfaat secara cepat dari zat gula ini yaitu sel dinding usus dan rambut-rambut halus di dalam usus, di mana ia dapat aktif dengan cepat ketika zat gula yang berada di dalam buah-buahan sampai kepadanya dan ia bersiap untuk menjalankan fungsinya secara utuh dan sempurna untuk menghisap berbagai macam makanan yang berbeda, yang di makan oleh seseorang setelah buah-buahan.

Barangkali inilah hikmah didahulukan buah-buahan daripada daging di dalam Al Qur’an dan Hadits Nabawi.

Sumber: Menyembuhkan penyakit Jiwa dan Fisik, oleh: Dr. Ahmad Husain Salim

LAZUARDI AKHLAK

LAZUARDI AKHLAK

BERBUAT BAIK DALAM SEGALA HAL /kultum Shalat Dzuhur Berjamaah Kamis, 7 Mei 2015 BY: MAMDUH BUDIMAN

Syaikh as-Sa’di berkata: Berbuat kebajikan (ihsan) itu ada dua macam:

1.Berbuat baik dalam beribadah kepada Sang Pencipta, dengan menyembah Allah seolah-

    olah melihat-Nya. Jika pun tidak melihat-Nya, maka Allah melihatnya. Yakni  bersungguh sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah secara Ikhlas, dan menyempurnakannya.

2.Berbuat baik berkenaan dengan hak-hak mahluk.

Berbuat baik pada dasarnya adalah wajib, yaitu anda menunaikan hak-hak mereka yang wajib, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, dalam berlaku adil dalam segala muamalat, dengan memberikan semua hak yang diwajibkan atas anda, sebagaimana kamu mengambil apa yang menjadi hakmu secara penuh.

   Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا {36}

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa:36)

Puncak Tertinggi Akhlaq Seseorang adalah IKHSAN

Ihsan (berbuat baik) ialah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Tetapi itu berbeda-beda tergantung kepada hak dan kedudukan mereka, tergantung kadar kebaikan, besar kedudukan, besar kemanfaatan,dan tergantung keimanan dan keikhlasan orang yang berbuat kebaikan, serta faktor yang mendorongnya kepada hal itu. Tidak ada salah dan malu (gengsi) dalam berbuat baik..sekecil apapun dalam bentuk apapun dan dengan apapun, dengan ikhlash,,maka Allah SWT akan memberi kemudahan sewaktu kita sulit dan akan mencatat sebagai INVESTASI akherat. “Barangsiapa berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai satu kebaikan, dan barangsiapa berkeinginan untuk suatu kebaikan lalu melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat” HR Imam Muslim Nomor 186