Tafsir

PENGAJIAN TAFSIR ALQUR’ANUL KARIM DI MASJID BAITURRAHIM TAMAN KINIBALU RW 02 KEL TANDANG KEC.TEMBALANG, KOTA SEMARANG (Kajian surat al-An’am 111-106)
Oleh: Drs M. Danusiri, M. Ag,     danusiri.dosen.unimus.ac.id
1. Membuka pengajian dengan mengucap salam kepada jamaah
2. Memulai pengajian dengan prolog hamdalah, syahadad, shalawat, wasiat takwa
3. Mengajak jamaah mengucapkan baiat:

اشهد ان لا إله إلا الله, واشهد ان محمدا رسول الله, رضيت بالله ربا وبالإسلام
دينا وبمحمد نبيا ورسولا. ربى زدنى علما وارزقتى فهما.امين, يا رب العالمين
4. Membaca ayat 111-116 secara berjamaah (koor)
5. Menunjuk 2 orang untuk membaca ulang aya-tayat tersebut di atas.
6. Menjelaskan kesalahan baca dan mengulanginya untuk memberi contoh
7. Menerjemahkan ayat kata demi kata model pesantren dengan pengantar bahasa Jawa
8. Mengulangi menerjemahkan kata demi kata denan pengantar bahasa Indonesia
9. Menyampaikan liflet contoh shalat praktis sesuai tuntunan Rasulullah (memenuhi permintaan jamaah) kemudian mengulas sedikit supaya ada kejelasan oleh para jamaah.
10. Teks-teks ayat kajian sebagai berikut:

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka[498], niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan

114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Alquran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

11. Ringkasan Kajian ( Tafsir)

1). Kaitan ayat ini (111) dengan ayat-ayat sebelumnya (100-111) masih menjelaskan bahwa orang kafir, hatinya tertutup sehingga tidak mau beriman , meskipun Alquran dalam mengajak mereka agar mau beriman kepada Allah melalui dialog rasional dengan menggunakan logika yang paling sederhana hingga yang paling ruwet, bahkan metarasional, ayat ini (111) menjelaskan bahwa orang kafir tetap kafir.
2). Meskipun Malaikat dihadapkan kepada orang kafir, orang mati dihidupkan dan berbicara kepada mereka, segala sesuatu dikumpulkan di hadapan mereka sebagai bukti akan kebenaran Allah, mereka tetap kufur.
3). Alquran sungguh benar, bahwa orang yang tertutup hatinya dari pintu iman tidak pernah akan terbuka, kalau bukan Allah sendiri yang membukanya. Benar Alquran mengatakan hidayah itu hanya datang dari Allah. Begitu banyak bukti pada jaman ini menunjukkan kebenaran Alquran, kebenaran Islam yang dapat dilihat oleh semua orang di dunia ini. Bukti-bukti kontemporer itu antara lain:
a. Rasulullah pernah membelah bulan. Ternyata dibuktikan oleh para ilmuwan Amerika serikat dan hasilnya dipublikasikan ke seluruh pelosok dunia, bahwa bulan itu pernah terbelah. Sambungan belahan itu hingga sekarang ternyata tampak jelas kurang pas seperti sebelum terbelah.

                   Gambar Bulan terbelah               Gambar Bulan terbelah                   Gambar Bulan Utuh

b. Pengamatan Karl Armstrong menunjukkan bahwa ka’bah itu memancarkan sesuatu yang mereka sebut radiasi. Radiasi itu membubung tinggi terus, menuju planet Mars, dan membubung terus hingga satelit pengindra jarak jauh mereka (stasiun NASA) tidak lagi bisa menangkap. Radiasi itu memancar terus ke atas tanpa batas.
c. Masih tentang ka’bah. Rasulullah mengatakan bahwa pusat bumi itu adalah ka’bah. Alquran menyebutkan bahwa ka’bah adalah rumah Allah. Rumah yang paling pertama di bangun di muka bumi sehingga disebut ‘baitul ‘atiq’(‘atiq diucapkan dengan lisan Indonesia menjadi antik yang berarti kuno) adalah ka’bah itu sendiri. Para Ilmuwan membuktikan bahwa di bawah ka’bah merupakan as bumi, as magnit bumi. Sehingga kompas di ka’bah itu tidak bergerak karena antara masing-masing kutub memiliki daya tarik yang sama. Karena itu daerah sekitar ka’bah tidak akan terkena gempa. Ini artinya kebenaran Islam dibuktikan benar adanya oleh kemajuan ilmu pengetahuan modern. Bukti-bukti ilmiah modern ini tidak terbantahkan oleh siapa pun. Namun, apa jadinya? Mereka tetap tidak mau beriman.
4). Secara teknis Alquran menyebut mereka yang tidak mau beriman kepada kebenaran Islam dikategorikan sebagai orang-orang bodoh. Artinya, orang non muslim itu adalah bodoh (hum yajhalun). Rasanya perlu dijelaskan bahwa lawan jahl (bodoh) adalah zaki’(pintar, cerdas, cerdik). Menurut perkembangan ilmu tentang potensi otak disebutkan bahwa ada yang disebut kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual. Atas dasar pembagian ketiga kecerdasan otak itu, manusia digolongkan ke dalam tiga jenis potensi otak itu.
Para ilmuwan non muslim termasuk para penemu ilmu dan teknologi modern adalah orang-orang yang intelektualnya cerdas, bahkan bisa saja jenius, tetapi aspek lain rendah bahkan nol sebagai bukti tidak mau menerima kebenaran Islam. Mereka tetap dikatakan bodoh.
Ada orang yang jenis emosinya sangat cerdas sehingga sangat humanis, manusiawi, demokratis yang sesungguhnya, sangat santun, tetapi kufur karena tidak mau menerima kebenaran Islam. Mereka tetap dikatakan bodoh oleh Alquran.
Ada jenis manusia yang spiritualnya cerdas, mau menerima kebenaran Islam, tetapi intelektualnya amat bodoh. Contohnya sudah menjadi orang Islam sejak lahir, tetapi asing dari petunjuk Alquran karena Alquran hanya dibaca saja. shalat rajin tetapi tidak tahu apa arti dan maksud yang sedang dibaca. Berdoa kelihatannya khusyu’ dan lama (hafal panjang doa) tetapi tidak tahu sedang memohon apa. Pokoknya berdoa, pokoknya amin. Orang semacam ini juga dikatakan bodoh oleh Alquran karena intelektualnya sangat tidak cerdas.
Alquran memaksudkan bahwa yang dikatakan pandai (cerdas, fathanah, zaki’) itu adalah perpaduan secara maksimal dalam puncak kecerdasannya masing-masing antara kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual). Profil orang semacam ini sekaligus disebut ilmuwan (‘alim, allamah), sangat santun kepada siapa pun, dan waskitha (bahsa tasawwuf: ‘arif billah, ahli kasyaf dan puncaknya orang yang telah memiliki pengalaman kenabian).
5). Ketika kaum jahilun (orang-orang bodoh, yang hakikatnya kafirun) itu memusuhi Nabi dan memusuhi Islam, apakah mereka itu berbentuk jin atau manusia, kita orang-orang beriman supaya menjauhi atau meninggalkan tipuan mereka. Tipuan mereka tampak indah dan sangat menggiurkan. Berikut ini beberapa contoh tipuan mereka:
a. Jin memberikan sesuatu seperti aneka macam senjata magis bagi orang yang terbiasa bermeditasi, berzikir, shalat tahajjud seperti: keris, akik merah delima, buluperindu, kol buntet, Rosario (tasbih alat hitung), cemethi amal rasuli, lulang bolandhoh, bathok bolu, kayu kastigi, galeh asem, wesi kuning, pring temu ros, dan lain-lain yang dipandang dan diyakini memiliki kekuatan magis). Pemberian itu mereka terima. Ia menjadi orang pintar, linuwih, jadhuk, tabib masyhur, atau sebangsanya. Mereka lupa bahwa persekutuan mereka dengan jin itu harus mereka bayar dengan mencampur atau menanggalkan iman hakiki (bukan iman tampak lahiriah).

           

b. Tipuan manusia yang tampak indah, puitis, dan berdalil menurut Alquran. Contohnya mereka yang terbiasa membaca ‘shalawat’ yang bukan dicontohkan Rasulullah juga berdalil dengan ayat “Inna-llaha wa Malaikatahu yushalluna ‘ala an-nabiy. . . “ dengan cara itu kemudian mendiskriditkan kepada orang-orang yang tidak mau membaca shalawat non contoh Rasul itu sebagai ahlul bid’ah dan tergolong ahlusunnah waljamaah. Adalagi lagi tipuan tafsir yang tampak ilmiah, logis, dan humanis, seirama dangan HAM seperti seks bebas sebagaimana fatwa dari kaum JIL.
Untuk itulah pada kesempatan ini perlu dijelaskan perbedaan shalawat tuntunan Rasulullah dan shalawat non tuntunan Rasulullah. Shalawat tuntunan Rasulullah hakikatnya adalah doa (permohonan) kepada Allah, umpama ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, , , dst, terjemahnya adalah “Ya Allah, anugerahilah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah menganugerahi kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarganya. Sementara itu shalawat non tuntunan Rasulullah bermotifkan aneka kepentingan manusia. Shalawat sebagaimana terdapat dalam naskah al-Barjanji, secara redaksional umumnya ‘memuja Rasul’, meskipun mereka bahasakan cinta Rasul. Pada lembar pertama dan kedua memuat 43 pujaan kepada beliau, contohnya “Assalamu ‘alaik . . . . (Keselamatan untukmu (Nabi Muhammad) wahai engkau thabibku (thabibii), engkau misik ku (miskii) jenis minyak wangi yang harum mahal harganya artinya beliau laksana misik karena harum namanya di alam semesta ini, engkau penghapus dosa (mahiyazzunuub) seperti kepercayaan Nasrani Yesus sebgagai penebus dosa, penolong atau yang diagungkan (mumajjad), engkau sebagai penolong orang asing (‘aunul gharib), engkau yang terpuji (Ahmad Muhammad), . . . . hingga engkau sebagus-bagusnya dalam berbuat (khairal ‘amilin). Mulai dari lembar pertama, isinya mayoritas adalah pemujaan kepada Rasulullah, tetapi juga ada aspek doa kepada Allah untuk beliau umpama “Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaih (ya Allah, anugerahilah kesejahteran dan keselamatan kepadanya). Doa ini untuk memisahkan antara topik satu dengan yang lain seperti basmalah untuk memisahkan antara surat yang satu dengan surat yang lain.
Secara umum masih dapat ditoleransi pujaan kepadanya, meskipun beliau tidak meminta sama sekali untuk dipuja. Akan tetapi ada bagian yang kelewatan dalam memuja beliau, umpama “Engkau sang penghapus dosa”. Alquran menyebutkan sebanyak 224 kali bahwa yang mengampuni (menghapus) dosa hanya Allah semata. Jadi perlu hati-hati dan selektif dalam menelaah naskah Albarjanji. Umpama aspek sejarah jelas amat bagus untuk kita ambil suri tauladannya, sementara yang membahayakan aqidah tauhidiyyah harus kita eliminasi.
Shalawat-shalawat lain umumnya untuk kepentingan manusia umpama shalawat naryiah, shalawat munjiayat, shalawat thibbul qulub, shalawat padhang ati dst. Inti shalawat-shalawat ini bukan doa kita kepada Allah untuk kesejahteraan dan keselamatan Rasulullah, keluarga, dan keturunannya. Jadi shalawat-shalawat itu menyimpang dari maksud utamanya., yaitu shalawat sebagai doa.
Itulah contoh-contoh yang dimaksud pengertian zuhrufal qaul ghurura (indahnya perkataan (jin dan manusia – syetan – tetapi hakikatnya adalah tipuan).
6). Orang-orang yang percaya akan bisikan indah (hakikatnya tipuan baik dari manusia maupun jin) semakin senang dengan bisikan-bisikan itu. Otomatis mereka semakin jauh dari iman islami, iman tauhid, dan kebenaran Alquran.
7). Kesenangan mereka terhadap bisikan-bisikanan syetan (jin dan manusia) menjadi jelas gap antara orang-orang beriman (Islam) dengan mereka. Dalam posisi demikian, terhadap orang-orang beriman ditanya: apakah kamu akan berhukum kepada selain Alquran, bahwa Alquran itu berasal dari Allah, bahwa Alquran itu benar (haq), bahwa Alquran itu telah menjelaskan segala seuatu dengan terperinci, mendetail, dan jelas? Inti pertnyaan itu adalah peringatan agar kita orang-orang beriman tidak ragu sama sekali terhadap Alquran sebagai hakim, sebagai petunjuk bagi kehidupan kita.
8). Allah mengulangi memberikan penjelasan kepada manusia bahwa firman Allah itu benar dan amat sempurna, tidak ada yang bisa mengubahnya. Dia maha mengetahui segala sesuatu, termsuk kepada mereka yang membenarkan kepada Alquran maupun yang mengingkarinya. Pernyataan ini menjadi semakin penting kalau dibandingkan kitab suci agama lain (agama tertentu) yang sudah jauh dari keasliannya. Campur tangan manusia dalam menorehkan nashkah ke dalam kitab suci demikian menonjol, bahkan keaslian itu sudah tertutup oleh torehan-torehan tangan mereka sendiri.
Implikasi dari diktum ini adalah sungguh sangat sesat bagi yang mencari-cari amalan-amalan yang berasal dari non ajaran Alquran maupun non tuntunan Rasulullah. Di kalangan masyarakat ‘muslim tertentu’, tiap malam Jum’at Kliwon mengadakan upacara tertentu, dalam ruangan gelap, ada sesajian yang intinya mengundang jin, harapannya jin itu akan memberikan uang dalam jumlah banyak (ukuran karung), dan mantra-mantranya campuran antara materi zikir, potongan ayat Alquran, surat-surat pendek tertentu dari Alquran, dan formula berbahasa Jawa atau bahasa Indonesia yang merupakan core (inti) maksud upacara itu.
9). Setelah memberikan penjelasan akan kebenaran Alquran, dalam level yang secara logika tidak terbantahkan lagi, Allah memerintahkan kepada Rasulullah dan kepada kaum mukminin semua agar hanya mengikuti wahyu (Alquran) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Wahyu berasal dari Allah, Tuhan Nabi Muhammad dan Tuhan kaum mukminin. Sekaligus peringatan kepada mereka (kaum mukminin) agar menjauhi orang-orang musyrik).
Kaum musyrikin dalam konteks ayat ini adalah orang-orang yang tertipu daya oleh syetan (keindahan lahiriah yang mempesona, bisa secara perasaan, bisa dalam bentuk kelebihan-kelebihan mistis, atau tampak sangat ilmiah) dari jin dan manusia. Syetan hanya akan menjerumuskan kita ke dalam kenistaan, kekufuran, dan kemusyrikan.
10). Menutup pengajian dengan doa bersama yang materinya antara lain permohonan agar jamaah tidak ragu akan kebenaran Alquran, terhindar dari praktik syirik, terjauh dari aneka macam balak, ampunan dosa dari segala macam kesalahan, dan permohonan rahmat dari-Nya. Selanjutnya diteruskan berdoa kafaratul majlis, hamdalah, dan salam penutupan.
Semarang, 5 Maret 2012

—————————

PENGAJIAN TAFSIR ALQUR’ANUL KARIM DI MASJID BAITURRAHIM, RW 2 TANDANG,
TEMBALANG, SEMARANG.KAJIAN SURAT AL-AN’AM AYAT 116-120
0LEH: M. DANUSIRI  danusiri.dosen.unimus.ac.id

1.Membuka pengajian dengan salam kepada jamaah
2.Prolog dengan hamdalah, syahadat, shalawat, wasiat peningkatan takwa, mengajak membuka pengajian dengan membaca basmalah bersama-sama.
3.Membaca ayat-ayat yang dikaji secara berjamaah (kor) secara tartil.
4.Menunjuk beberapa orang membaca kembali dari ayat pertama hingga yang terakhir dengan cara bergantian secara acak dari tempat duduk. Bagi yang tidak bisa atau tidak bersedia, atau karena alasan lain dilewati lalu menunjuk orang selanjutnya sebagai pembaca.
5.Membetulkan kesalahan-kesalahan baca
6.Menjelaskan cara pengucapan huruf fak, qaf, dan kab.
7.Menerjemah kata-kata demi kata model pondok pesantren, yaitu makna gandhul, mengulangi sekali dengan pengantar bahasa Indonesia.
8.Menafsir atau menjelaskan maksud-maksud kata-kata tertentu dari ayat-ayat yang sedang dikaji.
9.Pendekatan yang digunakan adalah metode tafsir tahlili, dan bisa berkembang sesuai arah persoalan yang muncul dari para jamaah.
10.Teks-teks ayat kajian adalah sebagai berikut:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)

117. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.

118. Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.

119. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

120. Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.
11. Ringkasan Tafsir:
1). Orang yang beristikomah dalam Islam murni (ad-Dinul khalish) baik secara normatif maupun realistik memang hanya sedikit. Keadaan ini menurut bahasa sekarang kurang populer.
2). Kebanyakan manusia atau orang beragama adalah salah, tetapi populis.
3). Peringatan dari Allah bagi kita kaum muslimin, yang istikomah dalam dinul khalish, agar tidak mengikuti kebanyakan manusia yang melata di muka bumi ini. Kebanyakan mereka adalah salah. Telah dijelaskan bahwa kesalahan manusia terjadi karena (a) tidak mau mengakui kebenaran Islam, (b) mau mengakui kebenaran Islam tetapi tidak puas hanya menggunakan Islam sebagai pedoman hidup, melainkan mencari-cari pedoman hidup dari agama lain untuk dicampurkan ke dalam Islam, atau (c) menciptakan sesuatu yang baru dalam islam. Jadi baik nomor b dan c merupakan Islam plus. Plusnya itu pasti menjadi sesuatu yang salah jika diukur dari kebenaran Islam. Kelompok a, b, dan c ini memang berbuat sekuat tenaga untuk menyesatkan kita. Bahasa teknis Alquran untuk ini adalah yadlilluuka (menyesatkan kamu).
4). Tambahan dari Islam dalam beragama baik yang berasal dari luar Islam maupun ciptaan manusia ini tidak bisa mencapai tataran kalkulasi kebenaran hakiki, betapa pun ‘pembuat campuran agama’ itu disucikan oleh para pengikutnya, melainkan hanya sebatas persangkaan. Sangat tidak pantas melaksanakan keberagamaan hanya bersumber dari sesuatu persangkaan. Keadaan berpikir apa iya apa tidak itu tidak boleh terjadi dalam Islam. Tetapi aneh justru digemari oleh kebanyakan orang. Lebih aneh lagi sebagian mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa pola keberagamaan mereka merupakan formula campuran antara Islam dan non Islam, umpama Hindu-Islam, Budha-Islam, Nasrani-Islam. Upacara tahlilan yang pahalanya dikirimkan untuk orang mati pada hari ke 1 hingga hari ke 7, 40, hari ke 100, pendhak pisan, pendhak pindho, hari ke 1000, dan khaul adalah kolaborasi antara Hindu-Islam. Menanam ari-ari di teras depan rumah dengan membaca surat al-Ikhlash, muta’awidzataini, lalu dipagari, dan kalau malam diberi lampu penerang adalah Hindhu-Budha-Islam. Acara ulang tahun dengan berdoa ala Islam lengkap dengan tiup lilin adalah kolaborasi antara Islam, Majusi, dan Nashara.
5). Persangkan-persangkaan dalam beragama itu tidak bukan dan tidak lain hanyalah dusta belaka terhadap Allah, Bahasa teknis untuk ini adalah yakhrushuun. Itulah sebabnya, sekali lagi, kalau kita ingin benar dalam beragama, tidak melakukan kedustaan terhadap Allah, kita harus hanya cukup beragama Islam dengan hanya berpedoman kepada Firman Allah dan sunnah utusan-Nya saja, meskipun secara sosiologis-politis kurang populis. Kalau mau jujur, kita memahami Alquran sepanjang hidup di kandung badan tak kan pernah cukup karena luasnya makna-makna yang terkandung di dalamnya.
6). Tambahan-tambahan dalam Islam selain dikatakan sebagai persangkaan dan kedustakaan, juga disebut sebagai kesesatan. Kesesatan ini ada dalam pantauan Allah Swt. Hasil pantauan itu kemudian dikomparasikan dengan hidayah (petunjuk). Sesat dan petunjuk dikatakan oleh-Nya tidak pernah sama, bisa diumpamakan antara timur dan barat, antara utara dan selatan. Kita pasti tidak bisa mengatakan arah timur ke barat-baratan atau barat ke timur-timuran. Jadi kita juga tidak bisa mengatakan sesat ke benar-benaran atau benar ke sesat-sesatan. Alhasil kita tidak bisa menciptakan agama Hindhu ke islam-islaman (Islamo-Hindhuisme) atau Islam ke Hindhu-hindhuan (Hindhuo-Islamisme).
7). Salah satu bentuk istikomah dalam keimanan adalah hanya mau mengonsumsi makanan sembelihan yang dinyatakan halal oleh Allah, antara lain yang disebut nama Allah ketika menyembelhnya. Kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya amat berat dan sulit untuk diterapkan di Indonesia ini, khususnya di Jawa bagi yang mengingingkan makan di warung atau restoran. Sejauh pantauan saya, jika ada warung makan muslim biasanya tidak laris dan cenderung tutup. Warung atau restoran yang laris umumnya yang memiliki citarasa khas, bukan label halal haramnya. Warung itu akan sangat laris kalau sudah dikunjungi dan dipromosikan oleh Bapak Bondan dalam acara kuliner, Ini artinya, negeri ini yang konon 88 % lebih beragama Islam lebih, ketika hendak makan di warung atau restoran, orientasi pertama adalah lezatnya, citarasanya, lokasinya, sementara halal dan haramnya tidak masuk dalam hitungannya. Peringatan Allah sebagaimana termaktub dalam ayat 118 ini menguap begitu saja dari sfera pikiran mereka. Sungguh suatu sikap yang amat gegabah dalam beragama. Mencari warung makan yang menyajikan citarasa, kelezatan, atau cirri-ciri lain yang menarik dan khas itu bagus dan tidak salah, tetapi bagi konsumen akan lebih bijaksana kalau juga memperhatikan halal-haramnya sajian yang jajakan.
8). Ketika kebanyakan manusia tidak mengacuhkan larangan Allah agar tidak mengonsumsi makanan haram ini, Allah lalu bertanya “mengapa kamu tetap tidak mau memakan makanan yang disebut nama Allah? Menurut analisis psikologi peringatan agar tidak mengonsumsi makanan haram ini sungguh amat penting. Pasti ada marabahayanya jika orang tetap nekad memakan makanan haram. Rasulullah menjelaskan bahwa shalat seseorang tidak akan diterima selama 40 hari jika habis memakan makanan haram. Shalat seseorang tidak diterima selagi pakaian yang dikenakan mengandung unsur pembayaran haram. Ini antara lain rahasianya.jadi shalat kita percuma saja kalau asupan makan kita itu haram. Tidak shalat menjadi kufur, shalat tidak diterima. Jadi tidak ada enaknya. Untuk itu mari kita laksanakan dengan penuh hormat dan ikhlas terhadap Allah. Mengapa? Allah mengetahui benar bagi orang yang melanggar larangan itu.
9). Makna Allah mengetahui bukan sekedar tahu sudah selesai, ibarat anak kecil mengetahui kejahatan preman, kemudian ia diam saja lantaran takut kepada preman itu. Tidak seperti itu. Allah maha tahu dan maha kuat. Jadi ketika mengetahui kejahatan seseorang tentu panjang akibatnya.
10). Sebelum akibat itu datang, sekali lagi Allah memerintah dengan tegas “jauhi dosa itu baik lahiriah maupun batiniahnya”, artinya kita jangan sekali-kali memakan makanan haram, makanan yang tidak disebut atas nama Allah. Kalau tetap nekad maka balasan itu akan benar-benar dilaksanakan. Kalau balasan itu tiba, maka tidak ada kekuatan apapun yang mampu menahannya.
11). Pengertian makanan yang tidak disebut atas nama Allah itu dapat diperluas pemahamannya menjadi bukan hanya binatang ternak sembelihan saja, melainkan semua makanan, minuman, obat-obatan yang masuk ke dalam tubuh, dan kosmetika (MMOK) yang cara mengonsumsinya, dan cara mendapatkannya tidak disebut nama Allah. Kekayaan hasil mencuri, korupsi, penggelapan, dan aneka cara-cara culas dalam memperolehnya pasti tidak disebut nama Allah ketika memperolehnya. Cara-cara ini tentu ada balasannya di akhirat kelak.
Kita pasti berlindung dan memohon kekuatan kepada Allah agar kita selamat dari keberagamaan kolaboratif-sinkretik, mengonsumsi, maupun memperoleh MMOK yang tidak halal, dan tidak disebut asma Allah
11. semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Mari kita tutup dengan bacaan hamdalah dan doa kafaratul majlis: Subhanakallaahumma wabihamdika, asyhadu anlaa ilaaha illa Anta astaghfiruka wa atuubu ilaik. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semarang, 19 Maret 2012
Nara sumber

M. Danusiri.

—————

PENGAJIAN TAFSIR ALQURANUL KARIM
MASJID BAITURRAHIM RW 02, TANDANG, TEMBALANG, SEMARANG: KAJIAN SURAT AL-AN’AM AYAT 91-92
OLEH; M. DANUSIRI danusiri.dosen.unimus.ac.id

1.    Membuka pengajian dengan memberi salam kepada jamaah
2.    Prolog dengan hamdalah, syahadat, shalawat, wasiat takwa, dan membuka pengajian dengan membaca basmalah secara jamaah.
3.    Membaca ayat kajian secara berjamaah
4.    Menunjuk dua orang secara acak untuk mengulangi membaca secara bergantian.
5.    Membetulkan beberapa kesalahan baca baik dari aspek makhrijul huruf maupun aspek tajwid
6.    Menjeleaskan dan mempraktikkan cara pengucapan huruf sin, syin, shad, dan tas’; selanjutnya menjelaskan tentang pengucapan lam jalalah.
7.    Penerapan tafsir tahlili, selanjutnya bisa berkembang kepada metode lain maupun corak tafsir, mengikuti arah proses interaktif dari para jamaah.
8.    Teks-teks kajian sebagai berikut:

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.


92. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya[492] dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.
9. Ringkasan
a.    orang-orang kafir Quraish, masyarakat  Nabi Muhammad, tidak mempercayai kisah-kisah Nabi terdahulu yang karena ketauhidan, istikomah dalam ketauhidan, kesabaran dan ketabahannya dalam menjalankan tugas dan perintah Allah dalam berdakwah  yang akhirnya memperoleh gelaran muhsinun, shalihin, atau berbagai hikmah tidak mempercayai sama sekali terhadap dakwah Rasulullah Muhammad ini.
b.    Mereka, orang Yahudi dan Nasrani  juga berani menentang Allah seraya mengatakan bahwa Allah itu tidak menurunkan apa pun kepada manusia. Ucapan ini sebenarnya menentang keras dakwah Rasulullah, bahwa Alquran yang dibawa itu buatan Muhammad sendiri.
c.    Allah memerintah kepada Nabi Muhammad supaya menjawab kepada para penentangnya, orang Yahudi, Nasrani, dan kafir Quraish sendiri dengan mengajukan pertanyaan “Siapakah yang menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa, yang dengan kitab itu menjadi pelita caha iman dan petunjuk kepada manusia?
d.    Mereka tidak menjawabnya dan kokoh dalam kekufurannya, selanjutnya Rasulullah (dalam bahasa Jawa), meleh-melehke justru mengurangi, menambahi, dan merubah isi kitab suci, dalam hal ini Taurat.
e.    Sebenarnya mereka itu sudah mengetahui outentisitas dan orisinalitas teks maupun isi kitab suci itu dari leluhur mereka. Jadi mereka memang sengaja memutarbalikkan isi kitab. Alquran datang  mengembalikan isi kitab-kitab terdahulu sehingga isi kitab terdahulu dengan kitab Alquran itu sebenarnya sama, yaitu sama-sama mengajarkan tentang ketauhidan (monoteisme0 yang berakar pada Nabi Ibrahim.
f.    Karena mereka tidak mau mendengar seruan Nabi Muhammad untuk diajak kembali kepada keberagamaan yang benar, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya membiarkan mereka bermain-main dengan kesesatan.
g.    Kemudian Allah menyatakan bahwa Alquran itu kitab penuh dengan berkah, seiring isinya dengan kitab-kitab terdahulu, dan supaya didakwahkan, disosialialisasikan kepada orang Makkah (ummul Qura’) dan lingkungannya, atau dengan kata lain  yang mau menerima seruan itu, tidak perlu memaksa-maksa.
h.     Dakwah di kalangan Ummul Qura’ dan masyarakat sekelilingnya ini ini juga terdapat dua golongan besar, ada yang menolak dan ada yang menerima. Golongan yang menerima langsung beriman, meskipun kepada hari akhir – suatu hari yang sulit dipahami oleh akal dengan segala dimensinya. Selanjutnya mereka menjaga shalat-shalat mereka di atas pondasi iman kepada hari akhir itu.
i.    Pengertian menjaga shalat itu, bukan hanya sekedar melaksanakan shalat, melainkan lebih dari itu, umpama jangan sampai lupa tidak shalat, jangan sampai tidak shalat berjamaah, jangan sampai tidak khusyu’ dalam shalat, jangan sampai tidak memahami arti makna bacaan yang diucapkan dalam shalat, jangan sampai hanya sekedar mengejar jumlah rakaat dalam shalat, jangan sampai hanya memburu fadhilah shalat tetapi tidak mengetahui larangan-larangan yang merusak keutamaan shalat, jangan sampai tidak menambah shalat-shalat tathawwu’, jangan sampai menambah shalat sendiri di luar yang ditentukan, jangan sampai hanya melaksanakan shalat ala kadarnya, jangan sampai melakukan shalat dengan kemalasan, jangan sampai shalat hanya terpaksa, perkewuh atau tujuan-tujuan lain non lillahi Ta’ala. Jadi ‘menjaga shalat’ itu adalah melaksanakan shalat secara ideal, sesuai tuntunan Rasulullah. Shalat dalam keadaan darurat, boleh dilaksanakn sesuai kesulitannya, umpama dalam bepergian, dalam keadaan sakit, atau masyaqqat-masyaqqat lain. Namun demikian, penghayatan ruhani tetap harus dalam keadaan ihsan, khusyu’, dan hati yang hudlur ila-llah.
9.    I’tibar
Ayat-ayat tersebut dapat dipahami sebagai seperangkat kisah umat terdahulu, ada actor atau pelaku kisah(sejarah) dan pola akhir ceritanya. Para actor kebaikan memperoleh sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat (happy ending), sementara yang memerankan kejahatan berakhir dengan tragedy, seiksa pedih, dan kekal dalam penderitaan.
10.    Pengajian ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh nara sumber, dilanjutkan hamdalah , dan doa koor  kafaratul majlis. Terakhir kali adalah penutupan dengan salam. Pengajian dinyatakan selesai.

Semarang, 6 Februari 2012.

M. Danusiri.

—————–

Jujur, Taat Pada Allah SWT Doa Beban Hidup

284. Milik Allah-lah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscahya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
285. Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an) dari Tuhannya. demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. “Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdo’a), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
(Al Qur’an Surat: Al-Baqarah : 284-286)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>