Friday Sermon(Khotbah Jum’at)

Imam & Khotib Sholat Jum’at Masjid At Taqwa Muhammadiyah Semarang (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG)

Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang, Telpon (024) 76740296, 76740297, Fax. (024) 76740291,Email: unimus@yahoo.com

Hari/tanggal: Jum;at, 2 Maret 2012,  Jam: 11.55 WIB
Imam & Khotib: Bapak H. Setia Iriyanto, S.E., M.M.
Muadzin: Heri
Kontak: Drs. H. M. Taberi Hasany / Agus Sumarmono
HP/Telepon: 081 325 856 900 / (024) 70237517

—————————————————————————————————————–

Sholat Jum’at Berjamaah.

Hukum Sholat Jumat

Sholat Jumat merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits berikut ini:

  • Al Qur’an Al Jumu’ah ayat 9 yang artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS 62: 9)
  • “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR. Muslim)
  • “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) sholat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at.” (HR. Muslim)
  • “Sholat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

== Hal-hal yang dianjurkan ==
Pada sholat Jumat setiap [muslim] dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:
* Mandi, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggosok gigi).
* Meninggalkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.
* Menyegerakan pergi ke [masjid].
* Melakukan sholat-sholat sunnah di masjid sebelum sholat Jum’at selama [Imam sholat|Imam] belum datang.
* Tidak melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan/menggeser mereka.
* Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang.
* Hendaklah memperbanyak membaca [shalawat] serta salam kepada [Rasulullah SAW] pada malam Jum’at dan siang harinya
* Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena hari Jumat adalah waktu yang ”mustajab” untuk dikabulkannya doa.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Salat_Jumat

Imam & Khotib Sholat Jum’at Masjid At Taqwa Muhammadiyah Semarang (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG)

Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang, Telpon (024) 76740296, 76740297, Fax. (024) 76740291,Email: unimus@yahoo.com

Hari/tanggal: Jum;at, 16 Maret 2012,  Jam: 11.55 WIB
Imam & Khotib: Bapak Drs. H. Ahmad Husaini
Muadzin: Agus Sumarmono
Kontak: Drs. H. M. Taberi Hasany / Agus Sumarmono
HP/Telepon: 081 325 856 900 / (024) 70237517

—————————————————————————————————————–

Sumber: http://sedekahindahberkah.blogspot.com/2010/04/pengertian-sedekah.html

Pengertian Sedekah
Definisi Sedekah

Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela).

Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah firman Allah SWT yang artinya:

”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Hadis yang menganjurkan sedekah juga tidak sedikit jumlahnya.

Para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya adalah sunah, berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Di samping sunah, adakalanya hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan. Terakhir ada kalanya juga hukum sedekah berubah menjadi wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga.

Menurut fuqaha, sedekah dalam arti sadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Sedekah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadits itu dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut.

Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiliknya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya;

”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Pahala sedekah akan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti:

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264).

Dirangkum /disarikan dari buku Ensiklopedi Islam

Keutamaan Sedekah

Diceritakan, ketika Nabi Ayub AS sedang mandi tiba-tiba Allah SWT mendatangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh. Lantas Allah SWT berfirman, ”Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?” Nabi Ayub AS menjawab, ”Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.”

Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.

Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata Rasulullah SAW, ”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.” Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ”Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, ‘Ya Tuhanku, karuniakanlah?ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah’. Yang satu lagi menyeru, ‘Musnahkanlah orang yang menahan hartanya’.”

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya. Pertama, mengundang datangnya rezeki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ”Pancinglah rezeki dengan sedekah.” Kedua, sedekah dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda, ”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit. Rasulullah SAW menganjurkan, ”Obatilah penyakitmu dengan sedekah.” Keempat, sedekah dapat menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah SAW, ”Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.”

Mengapa semua itu bisa terjadi? Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah. Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).

Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya, masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah? Wallahu a’lam bis-shawab.

Sumber: http://sedekahindahberkah.blogspot.com/search/label/Kisah-kisah

Pahala dan manfaat sedekah:

1. Sedekah ialah Penyuci dan Pembersih

2. Sedekah ialah Bentuk Ketundukan kepada Perintah Allah dan Rasul-Nya

3. Orang Mukmin Berada dalam Naungan Sedekahnya pada Hari Kiamat

4. Sedekah Menghindarkan Musibah dan Menjauhkan Kematian yang Buruk

5. Sedekah ialah Tanda dan Bukti Nyata Keimanan yang Benar

6. Sedekah ialah Penebus bagi Seorang Muslim dari Belenggu yang Mengikatnya

7. Allah Memberi Ganti Orang yang Bersedekah

8. Pahala Sedekat Tak Terputus Meskipun Setelah Penyedekah Meninggal

9. Sedekah Menghapus Kesalahan

Sumber: Hasan bin Ahmad Hammam er. al.,  (Terapi Dengan Ibadah)  by: Admin LSIK

——————————————————————–

Imam & Khotib Sholat Jum’at Masjid At Taqwa Muhammadiyah Semarang (UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG)

Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang, Telpon (024) 76740296, 76740297, Fax. (024) 76740291,Email: unimus@yahoo.com

Hari/tanggal: Jum;at, 27 April 2012,  Jam: 11.55 WIB
Imam & Khotib: Bapak Drs. H. Waspada
Muadzin: Heri S.
Kontak: Drs. H. M. Taberi Hasany / Agus Sumarmono
HP/Telepon: 081 325 856 900 / (024) 70237517

—————————————————————————————————————–

ABAD TANTANGAN DAN HARAPAN .

Abad ke XXI adalah abad tantangan dan harapan

Apakah Islam akan tampil sebagai Pemenang atau sebaliknya menjadi Pecundang ?

Apakah kita cukup stagnan dengan produk para pembaru masa lampau, atau harus mengadakan pembaruan baru, pada perubahan berubah begitu cepat ?

Keabadian hanyalah mutlak milik Allah SWT. “SelainNya tidak ada yang tidak berubah” Terlebih lagi pada masa informasi dan teknologi, perubahan terjadi hanya dalam hitungan detik.

Untuk manjadi pemenang, harus mempunyai modal sang juara, sabar dan teguh dalam kesabaran. Tahan banting dan tidak mudah menyerah. Kreatif dan inovatif didalam menyikapi perubahan.

QS. Ali Imron 003:200:

200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Hanya orang-orang bertaqwa yang akan beruntung dapat meraih kemenangan, karena mereka memiliki mental  pemberani, berkeyakinan bahwa Allah selalu bersamanya.

Zaman sekarang ini juga mendapat julukan era kepanikan (the age of enxiety), yang ditandai dengan mewabahnya berbagai macam penyakit syaraf dan psikis. Krisis mental telah menggiring terciptanya kebrutalan. Permissiveness yang diusung oleh kaum liberalism telah melahirkan generasi liar. Dehumanisasi dan luruhnya estetika budaya telah mereduksi harkat dan fitrah manusia.

Instanisme, telah mengalami kegagalan, Inilah saatnya kita memperkenalkan Islam sebagai way of live. Kita harus yakin sepenuhnya (haqqul yakin) bahwa Al-Qur’an sebagai mu’jizat, akan selalu siap menghadapi tantangan perubahan dan perkembangan sepanjang masa.

Sadarlah, bahwa sekarang ini, kita sedang berada pada sisa-sisa zaman.

Al-Qur’an menyebutkan: Qiamat pasti datang dalam waktu dekat:

QS. Al-Mu’min 040:59:

59. Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.

QS. An-Najm 053:57-58:

57. Telah dekat terjadinya kiamat. 58. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah (rahasia Allah)

Apakah pada sisa waktu yang tinggal sedikit ini, kita mampu menjadikan islam perpengaruh, atau sebaliknya semakin terpuruk ?

Semuanya tergantung kepada ahli warisnya !!

Kehancuran materi, dengan mudah akan pulih kembali. Kerusakan pola pikir dan hilangnya metode berfikir sebua umat, akan menjadikan umat gedodora dan tertinggal, karena harus atret kebelakang untuk memulai dari nol.

Sebagian besar umat Islam sekarang ini, boleh dikata telah membuang metode pemikiran yang diwariskan oleh pemimpin sejati, Nabi Muhammad SAW. Al Quran dan Sunnah, sebagai dasar pemikiran yang komprehensif, telah dipotong-potong, dibuang ke gudang dan tong-tong sampah. Dijadikan corpus resmi untuk melegalkan sebuah kepentingan. Atau disakaralkan, dipajang dirak buku sebagai barang antik yang tidak pernah disentuh. Betapa naifnya.

Ketahuilah bahwa bahtera kita sedang oleng. Sebagai generasi pewaris, kita mengemban kewajiban untuk menyelamatkannya. Tidak usah kita menyalahkan nahkoda yang sedang kepanikan

, tidak perlu mengumpat para awak kapal yang sedang mabuk-mabukan, apalali berbantah dengan sesama. Marilah kita segera bertindak bersatu sebelum bahtera ini benar-benar tenggelam.

KHOTBAH KE 2

Generasi sekarang ini, kebanyakan telah terpesona dengan keberhasilan Barat yang materialisme, tanpa memahami realitas pemikirannya. Sehingga mereka hanya terpikat, kemudian mengikuti jejaknya sampai masuk keliang biawah (HR. BUKHARI).

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz telah menceritakan kepada kami Abu Umar Shan’ani dari Yaman dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha bin Yasar dari Abu Sa’id Al Khudzri: Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan nasranikah ?” Nabi menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka ?” (H.R. BUKHARI)

Mereka menyatakan beragam Islam, tetapi inferior terhadap agamanya sendiri, meninggalkan syari’ahnya, berbangga dengan hukum-hukum agama lain.

QS. Ali Imran 003:196-197

196. Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak didalam negeri.

197. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam; tempat yang seburuk-buruknya.

Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi, menyia-nyiakan waktu dengan kegiatan yang tak berarti. (Al-Asr)

Sumber: Khotbah Shalat Jum’at oleh: Drs. H. Waspada (Anggota PWM Jawa Tengah)

by: Admin LSIK UNIMUS

Khotbah Jum’at (21 Juni 2013) Masjid At Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah Semarang-UNIMUS.

Oleh: Ustadz Mamdukh Budiman, Lc, S.S.

Prophetic Leadership “Sifat Kepemimpinan Nabi”

—————————

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
قال النبى صلى الله عليه وسلم: تَرَكْتَ فِيْكُمْ اَمَرَيْنِ لَنْ تَضَلُوا مَا تُمْسِكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ الله وَسُنَةُ رَسُوْلُهْ

Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua hal. Jika kalian mau berpegang teguh kepadanya niscaya kamu sekalian tidak akan sesat selama-lamanya, dua hal itu adalah kitab Allah (al-qur’an) dan sunnah Rasul-Nya (al-Hadits)

رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَا مِنْ عَبْدِ اِسْتَرَعَاهُ الله وَعِيَةُ فَلَمَ يَحْطُلُهَا بِنَصِيْحَةْ اِلاَ لَمْ يَجِدُ رَائِحَةُ الجَنَةُ

tidak ada seorang hamba yang diberi tugas oleh Allah untuk memelihara segolongan rakyat, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk, melainkan ia tidak memperoleh bau sorga

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Sebagian masyarakat Indonesia saat ini mengalami krisis esensial, baik secara spiritual, mental, moral, maupun sosial. Krisis spiritual ditandai dengan melunturnya penerapan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap yang ditunjukkan antara lain adalah tidak merasa berdosa meninggalkan perintah Tuhan, serta melanggar larangan Tuhan, malas beribadah, seolah-olah tidak membutuhkan agama dan Tuhan, Begitu juga dengan para pemimpin di negeri ini, rendahnya akhlaq dan keluhuran serta keadilan terhadap rakyat..

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior), Di dalam konsep (manhaj) Islam, pemimpin merupakan hal yang sangat final dan fundamental. Ia menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat Islam. Dalam kehidupan berjama’ah, pemimpin ibarat kepala dari seluruh anggota tubuhnya. Ia memiliki peranan yang strategis dalam pengaturan pola (manhaj) dan gerakan (harakah). Kecakapannya dalam memimpin akan mengarahkan ummatnya kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan ummat dengan iringan ridho Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW merupakan (the leader), Bila kita cermati kehidupan Rasulullah kita akan menemukan banyak sekali keistimewaan dan pelajaran yang seakan-akan tidak perna habis. Dalam hal kepemimpinan lihatlah bagaimana Rasullah membangun kepercayaan dan kehormatan dari kaumnya. Sebelum menjadi nabi, Rasullullah sudah mempunyai gelar al-amin yang artinya bisa dipercaya. Sebuah gelar yang tidak bisa dikatakan biasa karena menununjukkan kredibilitas beliau.  Bagaimanakah para pemimpin kita, Bangsa Indonesia, saat ini??..

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Bila kita flash back  sejarah sirah nabawiyah, Kisah yang mencerminkan keluhuran dan kejujuran seorang pemimpin

Setelah peristiwa Haji Wada’ kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun.  Selanjutnya Nabi bertanya.

Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik”.

Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah Ibnu Muhsin.

“Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat,. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh.

tiba tiba, melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Dengan sigp, untuk membela Nabi, dialah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Umar Ibn Khattab. mereka berkata: ”Hai ‘Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, Qisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul”

“Duduklah kalian sahabatku,Rasul menyuruh kedua sahabat tadi untuk tenang.
kemudian tiba -tiba, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan ‘Ukasyah
“Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku”

Rasul menyuruh Ali untuk tenang

Kemudian para sahabat lainnya dengan sigap membentengi nabi Muhammad SAW atas Qisas oleh Ukasyah.

‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil kisas. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya.

“Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. ‘Ukasyah menangis gembira, ‘Ukasyah bertasbih memuji Allah, ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, “Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”.

Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. ‘Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium ‘Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. “Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”.

——————————————————————————————

Khutbah ke dua


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..,

 

Kemampuan mengendalikan diri yang dimaksudkan adalah kemampuan sesorang untuk mengendalikan akal pikiran, panca indera, dan fisiknya agar mengikuti nurani yang berada di dalam qolbu. Mempengaruhi orang lain dengan tulus bermakna proses mempengaruhi oleh pemimpin profetik dilakukan dengan kesadaran, tidak dengan memaksa/dipaksa orang lain. Kekuatan pencerahan jiwa ialah proses mempengaruhi dijalankan dengan keteladanan, sehingga pemimpin sudah/sedang mempraktekkan  apa yang dipengaruhkan sebagai wujud jiwanya yg telah tercerahkan. Pembersihan ruhani bermakna proses mempengaruhi merupakan media interaksi transendental dengan Allah SWT, meskipun wujud fisiknya adalah interaksi horisontal dengan sesama makhluk Allah.  Tujuan para pemimpin profetik adalah memperoleh Ridho Allah SWT, baik ketika berinteraksi di dunia, maupun untuk kehidupan di akhirat. dimensi kepemimpinan kenabian terdiri dari empat,  yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Aqimi shalat

Comments are closed.