KHUTBAH IDUL ADLHA 1435 H.

KHUTBAH IDUL ADLHA 1435 H.

Oleh: Drs. H. Hamzah Rifki

IDUL ADLHA : KETUNDUKAN TOTAL KEPADA TUHAN

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعه بالهدى الى يوم الدين أَمَّا بَعْدُ

أَيًّهَا اْلحَاضِرًوْن رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ  وَاتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَر اللَّهُ أَكْبَر،  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَقَالَ اللهً تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : اعوذ بالله من الشيطان الرجيم (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [الحج/34]

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat dan karuniaNya yang tak mungkin kita dapat menghitung dan merincinya walaupun kita saling bantu dan saling tolong satu dengan yang lain, bahkan dengan alat hitung secanggih apapun, pasti kita tidak akan mampu menghitung, mengkalkulasi dan merinci nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Terutama nikmat hidayah Iman dan Islam yang sampai dengan detik ini masih Allah karuniakan dalam diri kita masing-masing, ia merupakan nikmat terbesar nikmat yang menjamin kesejahteraan kita, baik di dunia bahkan di akhirat. Kalau nikmat-nikmat yang lain setiap saat bisa datang dan bisa pergi, harta benda misalkan suatu saat kita punya di saat yang lain dia rusak atau hilang, jabatan suatu saat kita punya suatu saat harus kita lepaskan, keluarga pun demikian, anak, istri, suami atau siapapun sekarang yang ada di sisi kita suatu saat pasti akan meninggalkan kita atau kalau tidak, tentu kita yang akan meninggalkannya. Namun iman dan Islam yang telah didatangkan Allah SWT dalam hati kita jangan pernah sekalipun dan sedetikpun pergi dan hilang dari diri kita. Sebab siapa tahu saat iman dan Islam kita pergi walau sejenak justru ajal saat itu datang menjemput kita. Na’uudzu billaahi mindzalik. Kita mesti selalu tanamkan dalam-dalam di hati kita wasiyat Allah SWT:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

”Jangan kamu mati kecuali (saat mati) kamu adalah orang-orang Islam” sudah barang tentu dalam pengertian muslim yang sebenar-benarnya, yaitu orang yang senantiasa tunduk, patuh kepada segenap ketentuan Allah dengan menegakkan dan menjunjung tinggi agamaNya yaitu Islam serta mewujudkannya dalam perilaku dalam seluruh relung kehidupannya, kapanpun dan dimanapun.

Oleh karena itu marilah kita syukuri dengan menjaga secara sungguh-sungguh keistiqamahannya bahkan kita tingkatkan kualitasnya sampai saatnya nanti masing-masing kita dipanggil kembali oleh Allah SWT, entah kapan waktunya, entah dimana tempatnya, entah bagaimana caranya, yang kesemuanya itu hanya Allah yang mengetahui.

Nikmat-nikmat Allah yang lain, mari kita syukuri dengan mendayagunakannya untuk berbakti, mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT. dan Allah SWT telah menjanjikan :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ  [إبراهيم/7]

“Sungguh jika kamu bersyukur, pasti aku tambahkan untukmu (nikmat), dan sungguh jika kamu ingkar dan tidak mau bersyukur, (ketahuilah) sesungguhnya siksaKu sungguh dahsyat dan keras”

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Pada saat ini ribuan bahkan jutaan saudara seiman kita, yang sedang bertamu kepada Allah, para Haji yang datang dan berasal dari seluruh penjuru bumi sedang bergerak dari Muzdalifah menuju ke Mina untuk melanjutkan manasik haji mereka melontar jumrah aqabah dan thawaf ifadlah setelah kemarin wukuf di Arafah lalu semalam mabit di Muzdalifah, seluruhnya menyatu dan luruh dalam gelombang ketundukan dan kepasrahan terhadap apapun ketentuan Allah. Mereka tidak sedang bersenang-senang, tidak sedang bertamasya, piknik memanjakan hawa nafsunya, tidak. Melainkan mereka sedang asyik dalam rengkuhan Tuhan, pelukan Allah. sehingga meskipun dalam balutan pakaian yang kusut dan lusuh berdebu, kelelahan yang dahsyat, walaupun mereka dihajar oleh terpaan panasnya siang di Padang Arafah serta dinginnya malam di hamparan pasir Muzdalifah, mereka tidak peduli, dari bibir mereka selalu terucap:

“لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ، لَا شَرِيكَ لَكَ”

“Sendiko dawuh Ya Allah, kami siap penuhi titahMu ya Allah, tiada sekutu bagiMu, sesungguhnya semua pujian dan nikmat adalah milikMu begitu pula kekuasaan. Tiada sekutu bagiMu”

Maa syaa’allaah, siapapun yang pernah merasakan lezatnya rengkuhan Allah di tanah suci Makkah al Mukarramah, pastilah merindukan dan ingin kembali merasakan kelezatannya. Merasakan haru birunya begitu dekat dengan Allah.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kita disini dan jutaan umat Islam yang lain yang tidak sedang menunaikan ibadah Haji berduyun-duyun datang ke mushalla, ke masjid atau ke tanah yang lapang, kalau Rasulullah SAW dulu selalu ke tanah lapang yang disebut mushalla kecuali saat tanah basah karena hujan untuk menyebut-nyebut nama dan keagungan Allah, dengan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid menunaikan shalat iedul Adlha sebagaimana Rasulullah SAW tuntunkan:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا (رواه البخارى ومسلم)

Dari Bara’ bin Azib: Rasulullah SAW SAW bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kita lakukan pada hari ini (yaumun nahr) adalah kita shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih kurban, maka siapapun yang melakukan demikian berarti dia telah sesuai dengan tuntunan kita”. (HR Bukhari dan Muslim)

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Allah SWT telah menginformasikan kepada kita bahwa seluruh umat manusia, dari umat Nabi Adam, umat nabi Idris, nabi Nuh dan seterusnya sampai dengan umat Musa, Isa, dan terakhir umat Muhammad SAW Allah SWT telah mensyari’atkan Qurban, upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan penyembelihan binatang, sebagaimana firman yang telah saya bacakan dalam mukaddimah :

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [الحج/34]

” Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (QS Al-Hajj :34).

Dan kinipun kita dapat saksikan bahwa seluruh agama, apapun namanya, dimanapun, pasti ada syari’at atau ajaran penyembelihan kurban, termasuk agama di masyarakat jawa yang dikenal dengan agama kejawennya bahkan masyarakat yang masih primitifpun pasti ada upacara keagamaan dalam bentuk penyembelihan kurban. Inilah bukti kebenaran firman Allah tersebut. Hanya saja di semuanya itu tidak lagi seperti yang apa yang disyariatkan Allah. Betapa tidak? Pada asalnya syariat Allah tentang kurban dilakukan untuk menyebut-nyebut asma Allah, mensyukuri nakmat-nikmatNya, tetapi mereka jadikan kurban sebagai bentuk media penebusan dosa, media permohonan rejeki dan penjagaan keselamatan untuk tolak bala’ dlsb. Kurban tidak dipersembahkan kepada Allah atau untuk Allah, tetapi dipersembahkan dan ditujukan kepada ruh-ruh leluhur, kepada para danyang dan dedemit. Kesemuanya itu adalah penyimpangan dan penyelewengan dari syari’at Allah bahkan sudah tercerabut dari akarnya yaitu asalnya ibadah kepada Allah, berganti menjadi ibadah kepada selain Allah. Inilah kesyirikan yang sangat dilarang dalam Islam. Namun bagaimanapun kita harus toleran dan biarkan mereka memegangi apa yang mereka yakini.

Untuk itulah dan karena itulah Allah mengutus Nabi Muhammad dengan membawa agama yang haq untuk meluruskan kembali segala bentuk penyimpangan penyembahan kepada Allah SWT.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Setiap Iedul Adlha atau iedul qurban atau yaumun nahr (hari penyembelihan kurban) tentu kita menjadi teringat peristiwa fenomenal dan luar biasa yang mestinya kita ambil hikmah dan kita jadikan teladan. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Q.S Ash-Shaffat 100-102

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ  [الصافات/100-102]

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (Ismail)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut menceritakan Nabi Ibrahim sebagai manusia biasa sangat ingin memiliki anak sebagai penerus keturunannya, dan siapapun pastilah memiliki keinginan sepeti itu. Maka dengan segenap kesungguhan dia meminta kepada Allah, sebuah permintaan sederhana namun esensial dan sangat vital yaitu anak yang shaleh, bukan anak yang pandai, anak yang gagah, tampan, cantik rupawan, kaya, canggih, sukses, bukan. Tetapi anak yang shaleh, anak yang baik. Lalu Allah berikan kepada Ibrahim anak yang baik budinya, halus pekertinya Ismail.

Namun ketika Ismail telah berumur cukup untuk bisa membantu dia berusaha datanglah perintah Allah tuhannya melalui mimpinya, sebuah perintah yang sulit untuk bisa dipercaya, perintah yang musykil. Betapa tidak? Perintah untuk menyembelih anak yang telah sangat lama ia dambakan dan ia cintai. Orang tua mana yang akan sanggup melakukannya? Subhanallah, Ibrahim manusia pilihan yang hidupnya diorientasikan hanya untuk Allah persis dengan pernyataan “Innaa shalaatii wanusukii wamahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah tuhan semesta alam). Dan yang tergambarkan pada Ismail sang anak tidak kalah menakjubkannya. Ketika Nabi Ibrahim bapaknya menyampaikan informasi tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, tanpa keraguan dan dengan penuh keteguhan dia nyatakan”Wahai ayah lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaallah engkau akan mendapati aku termasuk mereka yang sabar”. Bukan main

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat iedul Adlha rahimakumullah,

Apa sesungguhnya kata kunci peristiwa menakjubkan itu? Tidak lain adalah apa yang terungkap pada pernyataan Ismail sang anak ”satajidunii insyaallah minash shabirin” Sabar, apa sabar itu ? sabar adalah ketegaran yang dilatar-belakangi adanya kesadaran bahwa kita adalah milik/kepunyaan Allah, dan kita pastilah nanti akan kembali kepada Allah. Kesadaran yang sering kita ucapkan tanpa kesadaran

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

”Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita pasti kembali kepadaNya”

Kesadaran inilah yang mendorong Ibrahim harus rela anaknya diminta kembali oleh Allah sang pemilik yang haq bahkan dengan cara menyembelih dengan kedua tangannya sendiri sekalipun. Demikian pula Ismail, kesadaran bahwa dirinya adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, maka apapun kehendak dan ketentuan Allah atas dirinya tentulah akan dia terima dengan rela hati walaupun dia harus kembali kepada Allah melalui cara disembelih orang tuanya atas perintah Allah, toh kalau pun tidak dengan cara demikian, Allah pasti akan carikan cara yang lain.

Hadlirin jamaah shalat Iedul Adlha rahimakumullah.

Bila Ibrahim berani berikan untuk Allah apa yang sangat ia cintai, yaitu Ismail anaknya. Demikian pula Ismail yang masih muda belia, yang masih senang-senangnya akan kenikmatan dunia berani berikan jiwanya untuk Allah. Lalu apa yang kita berani berikan untuk Allah Setelah sekian banyak nikmat Allah berikan kepada kita? Bukankah begitu entheng dan ringan kita ucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”? Benarkah kita merasa sebagai milik Allah? Benarkah kita sadar bahwa apapun yang kita miliki itu berarti milik Allah? Dan relakah kita bila setiap saat Allah berhak meminta kembali milikNya?

Alhamdulillah, Allah tidak memerintahkan kepada kita sebagaimana Allah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail. Allah hanya perintahkan kita mengikhlaskan untuk menyembelih kurban berupa binatang ternak untuk Allah, karena Allah. Allah hanya perintahkan kita luangkan sedikit waktu untuk shalat menghadap kepadaNya dan Allah hanya perintahkan kita sisihkan sedikit dari harta kita untuk zakat dan shadaqah. Allah perintahkan kita menunaikan ibadah Haji, itupun bagi yang mampu. Selebihnya, ketentuan-ketentuan Allah semuanya hanya untuk kebaikan kita sendiri. Hanya orang bodoh yang berlagak pintarlah yang menolak ketentuan Allah dan menganggapnya sebagai pengekangan.

Marilah kita selalu ingat sentilan Allah:

{وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ (52) وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ } [النحل: 52، 53]

52. Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?

53. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan

Dan mari kita didik, kita bina putra-putri kita menjadi manusia-manusia yang senantiasa sadar bahwa dirinya adalah milik dan kepunyaan Allah dan sadar bagaimana bersikap dengan benar terhadap pemiliknya yaitu Allah SWT, dengan senantiasa tunduk dan patuh mengikuti ketentuan-ketentuan Allah yang pasti untuk kebaikan manusia.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Dalam ibadah qurban ini semestinya pula kita pahami bahwa Allah tidak memerintahkan kepada kita hanya sekedar menyembelih binatang ternak dan pesta pora menikmati sembelihan tanpa makna apapun. Allah tidak butuh daging, kepala maupun darah kurban seperti sesembahan-sesembahan selain Allah sebagaimana yang biasa terjadi dan menjadi adat istiadat masyarakat kita. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ [الحج/37]

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.

Dengan ibadah kuban ini, di samping Allah menguji sejauh mana ketaqwaan kita kepada Allah, sejauh mana ketundukan kita kepada ketentuan-ketentuan Allah, Allah juga memberikan isyarat dengan penyembelihan binatang itu agar kita juga menyembelih, mengalirkan dan membuang kotoran dari diri kita nafsu-nafsu kebinatangan. Karena nafsu-nafsu kebinatangan inilah yang menjadikan banyaknya manusia  menjadi penghuni neraka jahannam sebagaimana firman Allah dalam surat Al A’raf 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف/179]

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Allah menginformasikan kepada kita bahwa banyak diantara jin dan manusia yang kelak dicampakkan ke neraka jahannam. Mereka adalah orang-orang yang telah dikaruniai hati tapi tidak mereka gunakan untuk merasa, mati rasa, tidak ada lagi rasa malu, hati yang gelap gulita dan tidak dapat menerima cahaya hidayah Allah. Mereka punya mata tidak mereka gunakan untuk melihat, seolah-olah buta terhadap kenyataan di pelupuk mata mereka, padahal Allah banyak memberikan petunjuk melalui kejadian-kejadian di depan mata mereka. mereka memiliki telinga tapi tidak pernah mereka gunakan mendengar, seperti orang tuli yang tidak dapat mendengar suara adzan, pembacaan ayat suci al-Qur’an, mauidhoh nasihat dan pelajaran dari para ulama dan mubaligh seolah-olah angin lalu dan tidak ngefek sama sekali. Maa syaaallah wa na’uudzubillaahi min dzaalik. Mereka hanya memperturutkan hawa nafsunya, persis binatang ternak yang hidupnya digerakkan oleh hawa nafsunya, tanpa akal dan hati, tidak hirau mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Mereka tidak hirau mana-mana yang harus dilakukan, mana-mana yang boleh dilakukan dan mana-mana yang tidak boleh dilakukan. Dan kata Allah bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak itu.

Maka marilah dengan penyembelihan binatang ternak untuk qurban kita jadikan simbol untuk bersihkan hati dan aliran darah kita dari nafsu-nafsu kebinatangan, nafsu bahimiyah yang akan menjadikan kita sangat jauh tersesat dan tergelincir dari martabat kemanusiaan kita yang telah Allah muliakan dengan ungkapkan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا  [الإسراء/70]

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan semoga memberi manfaat bagi kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang senantiasa lurus istiqamah dalam ketundukan dan kepatuhan di jalan Allah shiraathal mustaqim dan saatnya nanti Allah sampaikan kepada kita ungkapan indah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي [الفجر/27-30]

marilah kita berdo’a kepada Allah semoga Allah yang maha mendengar berkenan mendengar do’a kita:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اللهم صل على محمد عبدك ورسولك وعلى اله وصحبه ومن تبعه بالهدى الى يوم الدين وبارك لنا معهم برحمتك يا ارحم الراحمين

Allahumma Ya Allah, kami bersyukur telah kau berikan umur panjang sehingga kami dapat menambah-nambah amal ibadah kami, sekaligus kami dapat kesempatan bertobat dan memohon ampunanMu,

Ya Allah, ampunilah semua dosa kami, kami sadar banyak perintah-perintahMu yang belum dapat kami laksanakan, sebaliknya masih banyak larangan-laranganMu yang justru kami kerjakan, kami banyak lalai ya Allah dan kami sering meremehkan agamaMu ya Allah, ampunilah kami ya Allah.

Ampunilah pula ibu bapak kami yang telah memelihara, merawat dan mendidik kami dari kami yang terlahir dalam keadaan telanjang dan bodoh, merekalah yang telah menutupi aurat kami dan menjadikan kami pintar dan cakap seperti sekarang ini, sayangilah mereka, seperti halnya mereka telah mencurahkan segenap kasih sayangnya untuk kami. Kami mohon kepadaMu ya Allah, berikan dan balaslah untuk mereka dengan yang lebih baik. Jadikanlah kebaikan-kebaikan kami sebagai kebaikan mereka pula. Berikanlah pahala untuk mereka atas setiap kebaikan yang kami lakukan.

Allahumma Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang shalih dan shalihah yang senantiasa menegakkan shalat, jadikan mereka anak-anak yang dapat kami banggakan di sisiMu karena kesalihannya, yang senantiasa memberikan tambahan pahala untuk kami di sisiMu atas kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan karena kami telah mendidik mereka agar senantiasa beriman kepadaMu dan beramal shalih, jangan jadikan mereka fitnah bagi kami disisiMu. Jadikanlah mereka orang-orang yang benar-benar bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat serta agamanya.

Allahumma ya allah, karuniailah kami, negeri kami para pemimpin dan pemegang amanah yang benar-benar menyadari bahwa dipundak mereka adalah tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat yang suatu saat akan mereka pertanggung jawabkan disisiMu

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Comments are closed.