Pentingnya Pendidikan Karakter Melalui Penguatan Mentoring AIK

Semarang | 7 Desember 2019, sebanyak 121 Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ikuti kegiatan Penguatan Mentoring Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) di ruang 408, Gedung NRC FIKKES Unimus. Dihadiri oleh Wakil Rektor I (Dr. More »

LSIK Gelar Pelatihan Mubaligh Muda Profesional 2019

Semarang | 17 Mei 2019 Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar “Pelatihan Mubaligh Muda”. Bertempat di rumah tahfidz Unimus, acara dibuka oleh Wakil Rektor I Dr. Sri More »

 

Category Archives: ARTIKEL

“Orang yang pertama mengetuk pintu surga adalah para hamba sahaya”

Abu Said, mantan budak Bani Hasyim menceritakan kepada kami, dia berkata: Shadaqah bin Musa shahib ad-daqiq, menceritakan kepada kami dari Farqad, dari Murrah bin Syurahbil, dari Abu Bakar Shidiq, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang kikir, orang yang suka menipu, orang yang suka berkhianat, dan orang yang buruk perangai(nya). Dan Orang yang pertama mengetuk pintu surga adalah para hamba sahaya, jika mereka berbuat baik pada apa yang ada diantara mereka dan Allah SWT, juga pada apa yang ada diantara mereka dengan tuan-tuan mereka.”

Keadaan Wanita di Surga

Keadaan Wanita di Surga

Segala puja & puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ (133)

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Allah Ta’ala juga berfirman:

           وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

فَأُولَئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِيْهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ (40)

 “Dan barangsiapa mengerjakan amal yang sholih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam Surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.” (QS. Al-Mu’min: 40)

Pembaca yang dirahmati Allah Ta’ala, ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa kenikmatan Surga bukan hanya untuk orang-orang beriman yang laki-laki saja. Akan tetapi, para wanita beriman pun akan dimasukkan ke dalam Surga dan diberikan kenikmatan di dalamnya.

Seringkali kita mendengarkan pertanyaan: “Jika laki-laki di Surga mendapatkan bidadari, lalu apakah yang didapatkan oleh wanita?” Benarkah seorang istri akan berjumpa lagi dengan suaminya di dunia? Bagaimana jika seorang wanita menikah lagi setelah suami pertamanya meninggal dunia, apakah wanita itu kelak di akhirat akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir?

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Istri Yang Sholih Akan Masuk Surga Bersama Suaminya

Apabila seorang mukmin memiliki istri yang sholihah, maka istrinya akan masuk ke Surga bersamanya. Dan wanita itu akan tetap menjadi istrinya di Surga. Allah Ta’ala berfirman:

 جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ (23)

 “(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya…” (QS. Ar-Ra’d: 23).

Demikianlah orang-orang mukmin hidup di Surga bersama dengan pasangannya. Dan seluruh penduduk Surga akan hidup bersama suami atau istri mereka, dan tidak ada satu pun yang membujang (tidak menikah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

 “Dan di dalam Surga tidak ada orang yang membujang (tidak menikah).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5062).

Jika seorang wanita belum menikah di dunia dan dia adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan seorang mukmin di Surga yang bisa menyenangkannya. Demikian pula jika seorang wanita diceraikan oleh suaminya di dunia, dan wanita ini adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menjodohkannya dengan laki-laki Surga yang dikendaki-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata bahwa jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di Surga. Maka kenikmatan Surga tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan Surga adalah pernikahan.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (71)

 “Dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Zukhruf: 71)

Beliau rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa perkawinan merupakan puncak dari apa yang diinginkan hati, dan itu didapatkan di Surga dengan orang yang mendapatkan pasangaanya di dunia, seperti firman Allah Ta’ala:

 رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِيْ وَعَدْتَهُمْ

وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ (8)

 “Wahai Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholih di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua…” (QS. Al-Mu’min: 8). (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219)

Jika Suami Tidak Masuk Surga

Jika seorang wanita termasuk penduduk Surga dan suaminya tidak masuk Surga, maka ia akan dinikahkan dengan laki-laki di Surga yang belum menikah.

Bisa juga ia dijodohkan dengan laki-laki yang sekufu’ (sebanding) dengannya, meskipun laki-laki itu sudah mempunyai istri lebih dari satu. Sebagaimana Asiyah (istri Fir’aun) dan Maryam binti ‘Imran, ibunya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, akan dinikahkan di Surga dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang tidak ada yang pantas menjadi pendampingnya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsiir Ibnu Katsir, 4/495 pada surat at-Tahrim, Tafsiir al-Qurthubi, 18/170, dan Fathul Qodir, 4/231)

Hisyam ibn Khalid rahimahullah mengatakan, “Suami masuk Neraka, namun istrinya masuk Surga, maka istrinya akan diwariskan kepada ahli Surga sebagaimana istri Fir’aun diwarisi oleh ahli Surga.” (At-Tadzkiroh, 461 dan Faidhul Qadir, no. 7989)

Jika Wanita Menikah Lebih Dari Satu Kali

Pembaca rahimakumullah, jika seorang wanita sholihah ditinggal mati suaminya, kemudian ia menikah lagi, maka dia untuk suaminya yang terakhir, sebagimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 اَلْمَرْأَةُ ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا

 “Istri itu untuk suaminya yang terakhir.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, 7/70, dan dinilai shohih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada istrinya, “Jika engkau berkeinginan menjadi istriku di Surga, maka janganlah menikah lagi setelah kematianku. Karena seorang wanita di Surga itu untuk suaminya yang terakhir di dunia. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengharamkan istri-istri Nabi untuk menikah lagi setelah beliau wafat, dikarenakan mereka adalah istri-istri beliau di Surga.” (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ummu Darda’, Hujaimah binti Hayy Al-Aushabiyyah radhiyallahu ‘anha ketika dilamar oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, dia menolak dan berkata, “Saya mendengar Abu Darda’ mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 اَلْمَرْأَةُ فِي آخِرِ أَزْوَاجِهَا – أَوْ قَالَ : ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا

 “Istri itu untuk suaminya yang terakhir”,  maka saya tidak ingin mengganti Abu Darda’ dengan yang lain. (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ada sebagian ulama kita yang berpendapat bahwa wanita itu untuk suaminya yang paling bagus akhlaknya, atau dia disuruh memilih salah satu diantara suaminya itu. Pendapat ini adalah pendapat yang bagus tapi tidak ada dasarnya. Sedangkan hadits (yang artinya): “Ia untuk suami yang paling bagus akhlaknya..” maka ini adalah hadits yang dho’if (lemah). (Ibnul Qayyim dalam Hadil Arwah: 158, Al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, tahqiq Hamid Ahmad Thahir: 460).

Mengapa Wanita Tidak Diiming-imingi Dengan Suami Di Surga?

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengiming-imingi kaum laki-laki dengan menyebutkan bidadari dengan segala kecantikan dan keindahannya. Kenapa untuk wanita, Allah tidak mengiming-imingi mereka dengan laki-laki di Surga? Pertanyaan ini bisa dijawab sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ (23)

 “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).

Akan tetapi, tidak ada masalah jika kita berusaha mencari hikmah dan mengambil faedahnya. Dan diantara hikmahnya adalah sebagai berikut:

Pertama, sesungguhnya termasuk tabiat wanita adalah sifat malu. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala tidak mengiming-imingi mereka dengan sesuatu yang mereka merasa malu terhadapnya.

Kedua, sesungguhnya kerinduan laki-laki terhadap wanita tidaklah sama dengan kerinduan wanita terhadap laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

 “Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah (cobaan) setelahku yang lebih berbahaya terhadap kaum laki-laki melebihi fitnahnya kaum wanita.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4706).

Kerinduan terbesar laki-laki adalah kepada wanita. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menyebutkan ada isteri-isteri di Surga dengan segala keindahannya agar mereka mau mencari di sana. Allah Ta’ala berfirman:

                                                                                  وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ (25)

 “Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci…” (QS. Al-Baqarah: 25)

Yakni suci dari segala macam aib dan kekurangan. Mereka disifati dengan suci akhlaqnya, suci tubuhnya (tidak ada lagi haidh, nifas, air ludah, atau bau yang tidak sedap), suci lisannya dan sangat sopan tutur katanya, suci pandangannya (menjaga pandangannya dan hanya melihat kepada suaminya saja), serta sempurna kecantikannya. (Diringkas dari Tafsiir al-Kariim ar-Rahmaan, surat al-Baqarah: 25).

Bahkan Allah juga menyediakan bidadari-bidadari yang cantik di sana, yang sama sekali belum pernah disentuh oleh jin dan manusia.

Adapun wanita, maka kerinduan mereka adalah kepada perhiasan yang berwujud pakaian dan perhiasan. Kerinduan mereka kepada perhiasan mengalahkan kerinduannya kepada laki-laki.

Ketiga, Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan para istri untuk para suami dikarenakan suamilah yang mencari dan menginginkan hal itu, (bukan sebaliknya).” (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219).

Oleh karena itulah, dalam masalah melamar seorang gadis, apabila gadis itu ditanya kemudian diam saja, maka diamnya itu adalah jawaban setuju. Hal ini karena wanita itu memiliki tabiat berupa sifat malu.

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, sahabat dan umat beliau sampai hari Kiamat.

Sumber : Buletin at-Taubah, edisi ke-40

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim

Ada sebuah cerita menarik dari seorang dosen UGM sebut saja Bapak Pujo. Beberapa tahun ini keluarga Bapak Pujo, ia selalu mencari anak-anak yatim atau keluarga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya. Mereka meminta ibu mertua saya untuk mendapatkan beberapa orang yang akan mereka bantu, dengan sedikit rezeki yang didapatkannya. Katanya, “Bu, saya ada sedikit rezeki, tolong saya dicarikan anak-anak yatim yang kurang mampu. Saya ingin memberikan biaya sekolah padanya. Tetapi Bu, jangan bilang kalau pemberian ini dari saya, ya !”

Alhasil, ada seorang anak yatim masih duduk di sekolah dasar, ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang buruh cucian. Rencananya, Bapak Pujo akan membantu melunasi biaya sekolah anaknya.

Suatu ketika ibu mertua saya memberikan amplop yang berisi sejumlah uang, kemudian terdengar ucap syukur tiada henti dari ibu pencuci ini, “Alhamdulillah ternyata masih ada orang yang peduli sama keluarga saya.”

“Lalu orang yang menolong saya ini, siapa Bu?” tanyanya penasaran. “Pokoknya ada orang yang membantumu,” jawab ibu mertua saya.

Alasan, kenapa keluarga Bapak Pujo tidak mau mengungkapkan identitasnya, karena merkea tidak ingin orang yang telah dibantunya berkunjung, sambil membawa sesuatu sebagai tanda terima kasih. Bukankah kebiasaan seperti ini sudah membudaya di masyarakat kita. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjadi bahan pembicaraan tetangga yang lain.

Tetapi setelah sekian lama ibu buruh pencuci pakaian itu mengetahui bahwa keluarga Bapak Pujo lah yang membantunya. Maka mereka pun datang ke rumahnya. “Bapak Pujo, ternyata selama ini keluarga Bapaklah yang mencukupi kebutuhan sekolah anak saya, kami mengucapkan banyak terima kasih, “katanya. “O, semua itu pemberian dari Allah SWT, saya hanya sebagai perantara dan rezeki itu memang sebagian milik anak-anak yatim dan fakir miskin. Jadi bersyukurlah kepada Allah SWT” katanya.

Keluarga Bapak pujo sadar akan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa di hari kiamat, ada beberapa orang yang akan bangkit dari kubur dalam keadaan api menyala di wajah mereka. Maka seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Maka Rasulullah membacakan firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An Nisa:10).

“Maka sebenarnya sebagian harta kami adalah milik fakir miskin dan anak-anak yatim. “katanya kemudian sambil mempersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari kejadian inilah, keluarga ibu pencuci pakaian itu semakin dekat dengan keluarga Bapak Pujo, dan Alhamdulillah keluarga Bapak Pujo bisa mengajaknya untuk selalu dekat dengan Allah. Yaitu melalui pengajian-pengajian yang sering diadakan di rumahnya. Selain siraman ruhani, hubungan silaturahmi diantara kedua keluarga itu pun semakin terjalin erat.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang yang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang seorang ahli ibadah yang kikir.” (HR. Tirmidzi, Misykiat).

Sekarang, kebiasaan bershodaqoh dengan membiayai anak-anak yatim pun merambah tidak hanya tetangga sekitar, orang-orang di luar lingkungannya pun dengan seijin Allah telah dibantunya. Dan ternyata selama mereka membantu anak-anak yatim dan fakir miskin. do’a-do’anya pun begitu mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Usahanya mengelola Koperasi Serba Usaha Dosen UGM begitu berkembang pesat, usaha angkutan pedesaan semakin bertambah armadanya, rumah yang dulunya sempit sekarang begitu megah, dan usaha bakpianya pun berkembang pesat.

Itulah hasil jerih payah usahanya selama ini, disertai dengan do’a-do’a para kaum fakir miskin dan anak-anak yatim menjadikannya dekat dengan Allah SWT, dan dekat dengan pintu rezeki-Nya yang penuh barokah.

by: Admin LSIK UNIMUS