Al Qur’an Berbicara Tentang Makanan

Makanan yang cocok dan pelengkapnya merupakan pilar kesehatan tubuh paling penting. Al Qur’an memiliki beberapa isyarat tentang makanan yang dengan kemukjizatan dan kefasihannya menunjukkan kepada pokok-pokok yang harus terpenuhi supaya manusia dapat menghasilkan apa yang seharusnya ia dapatkan dari unsur-unsur penting untuk bangunan tubuhnya tanpa kekurangan atau berlebih-lebihan. Setiap hari sejumlah penemuan ilmu pengetahuan modern menyingkapkan kepada kita kedalaman dan kemukjizatan yang lain pada isyarat-isyarat tersebut.

Kita memulai makan dengan buah-buahan terlebih dahulu. Di dalam kitab-Nya, Allah mendahulukan buah-buahan daripada daging. Dia berfirman,

“Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (Al-Waaqi’ah:20-21)

“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini” (Ath-Thuur: 22)

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma karena itu keberkahan.”

Mengkonsumsi buah-buahan sebelum menu makanan yang lain, memiliki beberapa manfaat kesehatan yang baik. Karena, buah-buahan mengandung zat gula alami, gampang dicerna, dan cepat diserap. Usus hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyerap zat ini, sehingga tubuh menjadi langsung lega, gejala kelaparan dan kekurangan zat gula pun hilang. Padahal orang memenuhi lambungnya secara langsung dengan makanan yang bermacam-macam membutuhkan waktu lebih kurang tiga jam, hingga ususnya baru bisa menyerap makanan yang mengandung unsur gulanya. Namun, tanda-tanda laparpun tetap terasa untuk jangka waktu lebih lama.

Zat gula yang alami di samping gampang dicerna dan cepat diserap, juga merupakan sumber energi yang pokok bagi sel-sel tubuh yang berbeda-beda. Di antara sel-sel yang dapat mengambil manfaat secara cepat dari zat gula ini yaitu sel dinding usus dan rambut-rambut halus di dalam usus, di mana ia dapat aktif dengan cepat ketika zat gula yang berada di dalam buah-buahan sampai kepadanya dan ia bersiap untuk menjalankan fungsinya secara utuh dan sempurna untuk menghisap berbagai macam makanan yang berbeda, yang di makan oleh seseorang setelah buah-buahan.

Barangkali inilah hikmah didahulukan buah-buahan daripada daging di dalam Al Qur’an dan Hadits Nabawi.

Sumber: Menyembuhkan penyakit Jiwa dan Fisik, oleh: Dr. Ahmad Husain Salim

Posted in Uncategorized | Comments Off

Kajian Ramadhan di Kampus Unimus

kajianramadhan1 kajianramadhan2 kajianramadhan3

Posted in Uncategorized | Comments Off

LAZUARDI AKHLAK

LAZUARDI AKHLAK

BERBUAT BAIK DALAM SEGALA HAL /kultum Shalat Dzuhur Berjamaah Kamis, 7 Mei 2015 BY: MAMDUH BUDIMAN

Syaikh as-Sa’di berkata: Berbuat kebajikan (ihsan) itu ada dua macam:

1.Berbuat baik dalam beribadah kepada Sang Pencipta, dengan menyembah Allah seolah-

    olah melihat-Nya. Jika pun tidak melihat-Nya, maka Allah melihatnya. Yakni  bersungguh sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah secara Ikhlas, dan menyempurnakannya.

2.Berbuat baik berkenaan dengan hak-hak mahluk.

Berbuat baik pada dasarnya adalah wajib, yaitu anda menunaikan hak-hak mereka yang wajib, seperti berbakti kepada orang tua, menyambung silaturahmi, dalam berlaku adil dalam segala muamalat, dengan memberikan semua hak yang diwajibkan atas anda, sebagaimana kamu mengambil apa yang menjadi hakmu secara penuh.

   Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا {36}

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa:36)

Puncak Tertinggi Akhlaq Seseorang adalah IKHSAN

Ihsan (berbuat baik) ialah mencurahkan semua kemanfaatan dari jenis apapun, kepada makhluk apapun. Tetapi itu berbeda-beda tergantung kepada hak dan kedudukan mereka, tergantung kadar kebaikan, besar kedudukan, besar kemanfaatan,dan tergantung keimanan dan keikhlasan orang yang berbuat kebaikan, serta faktor yang mendorongnya kepada hal itu. Tidak ada salah dan malu (gengsi) dalam berbuat baik..sekecil apapun dalam bentuk apapun dan dengan apapun, dengan ikhlash,,maka Allah SWT akan memberi kemudahan sewaktu kita sulit dan akan mencatat sebagai INVESTASI akherat. “Barangsiapa berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai satu kebaikan, dan barangsiapa berkeinginan untuk suatu kebaikan lalu melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat” HR Imam Muslim Nomor 186

Posted in Uncategorized | Comments Off

KITAB SUMPAH DAN NADZAR

Kultum Shalat Dzuhur Berjama’ah Rabu, 29 April 2015 Tentang: Sumpah dan Nadzar

oleh: Ustadz Mamdukh Budiman, S.S., L.C

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Sumpah yang pernah digunakan Rasulullah SAW, “Tidak! Demi Dzat Yang membolak balikan hati’.Shahih: As-Shahihah (2090) dan Al Bukhari.

Bersumpah dengan Menyebut Nama Allah; Dzat yang membolak balikan Hati

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Sumpah Rasulullah SAW adalah, ‘Tidak! Demi Dzat Yang membolak balikan hati’.” Hasan: Ibnu Majah (2092)

Bersumpah dengan Menyebut Kemuliaan Allah Ta’ala

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Allah mengutus Jibril AS ke surge, lalu Dia berfirman, ‘Lihatlah ke surge dan apa yang aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya. ‘Jibril pun melihatnya, ia kemudian kembali, lalu ia berkata, ‘Demi, kemuliaan-Mu, tidaklah seseorang mendengarnya kecuali ingin memasukinya. ‘ Setelah itu Allah memerintahkan kepada surga sehingga jalan kepadanya dihiasi dengan berbagai hal yang dibenci. Lalu Dia berfirman, ‘Pergilah dan lihatlah padanya dan apa yang aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya. ‘Jibril pun melihatnya, maka ternyata saat itu jalan keduanya telah dihiasi dengan berbagai hal yang dibenci. Jibril berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku merasa takut bahwa tidak seorangpun ingin memasukinya.’ Allah berfirman, ‘Pergilah dan lihatlah ke neraka serta apa yang aku sediakan di dalamnya bagi penghuninya. ‘Jibril pun melihatnya, maka keadaannya bersusun; dimana sebagiannya berada diatas sebagian lainnya. Jibril kembali, dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh tidak ada seorang pun yang ingin memasukinya. ‘Setelah itu, Allah memerintahkan kepada neraka sehingga jalan kepada neraka dihiasi dengan berbagai hal yang disenangi. Allah berfirman, ‘Kembalilah dan lihatlah ke padanya dan apa yang aku siapkan di dalamnya bagi penghuninya. ‘Jibril pun melihatnya, maka ternyata saat itu jalan telah dihiasi dengan segala yang disenangi. Jibril pun kembali, seraya berkata, ‘Demi kemulian-Mu, sungguh aku takut bahwa tidaklah seorang pun dapat selamat darinya, melainkan pasti memasukinya’.”

 

 

 

Posted in Uncategorized | Comments Off

“Orang yang pertama mengetuk pintu surga adalah para hamba sahaya”

Abu Said, mantan budak Bani Hasyim menceritakan kepada kami, dia berkata: Shadaqah bin Musa shahib ad-daqiq, menceritakan kepada kami dari Farqad, dari Murrah bin Syurahbil, dari Abu Bakar Shidiq, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang kikir, orang yang suka menipu, orang yang suka berkhianat, dan orang yang buruk perangai(nya). Dan Orang yang pertama mengetuk pintu surga adalah para hamba sahaya, jika mereka berbuat baik pada apa yang ada diantara mereka dan Allah SWT, juga pada apa yang ada diantara mereka dengan tuan-tuan mereka.”

Posted in Uncategorized | Comments Off

Keadaan Wanita di Surga

Keadaan Wanita di Surga

Segala puja & puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ (133)

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Allah Ta’ala juga berfirman:

           وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

فَأُولَئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِيْهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ (40)

 “Dan barangsiapa mengerjakan amal yang sholih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam Surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.” (QS. Al-Mu’min: 40)

Pembaca yang dirahmati Allah Ta’ala, ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa kenikmatan Surga bukan hanya untuk orang-orang beriman yang laki-laki saja. Akan tetapi, para wanita beriman pun akan dimasukkan ke dalam Surga dan diberikan kenikmatan di dalamnya.

Seringkali kita mendengarkan pertanyaan: “Jika laki-laki di Surga mendapatkan bidadari, lalu apakah yang didapatkan oleh wanita?” Benarkah seorang istri akan berjumpa lagi dengan suaminya di dunia? Bagaimana jika seorang wanita menikah lagi setelah suami pertamanya meninggal dunia, apakah wanita itu kelak di akhirat akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir?

Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Istri Yang Sholih Akan Masuk Surga Bersama Suaminya

Apabila seorang mukmin memiliki istri yang sholihah, maka istrinya akan masuk ke Surga bersamanya. Dan wanita itu akan tetap menjadi istrinya di Surga. Allah Ta’ala berfirman:

 جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ (23)

 “(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya…” (QS. Ar-Ra’d: 23).

Demikianlah orang-orang mukmin hidup di Surga bersama dengan pasangannya. Dan seluruh penduduk Surga akan hidup bersama suami atau istri mereka, dan tidak ada satu pun yang membujang (tidak menikah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

 “Dan di dalam Surga tidak ada orang yang membujang (tidak menikah).” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5062).

Jika seorang wanita belum menikah di dunia dan dia adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan seorang mukmin di Surga yang bisa menyenangkannya. Demikian pula jika seorang wanita diceraikan oleh suaminya di dunia, dan wanita ini adalah calon penghuni Surga, maka Allah Ta’ala akan menjodohkannya dengan laki-laki Surga yang dikendaki-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata bahwa jika seorang wanita belum menikah di dunia, maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan suami yang bisa menyenangkannya di Surga. Maka kenikmatan Surga tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan Surga adalah pernikahan.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (71)

 “Dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Zukhruf: 71)

Beliau rahimahullah mengatakan, “Kita ketahui bersama bahwa perkawinan merupakan puncak dari apa yang diinginkan hati, dan itu didapatkan di Surga dengan orang yang mendapatkan pasangaanya di dunia, seperti firman Allah Ta’ala:

 رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِيْ وَعَدْتَهُمْ

وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ (8)

 “Wahai Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholih di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua…” (QS. Al-Mu’min: 8). (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219)

Jika Suami Tidak Masuk Surga

Jika seorang wanita termasuk penduduk Surga dan suaminya tidak masuk Surga, maka ia akan dinikahkan dengan laki-laki di Surga yang belum menikah.

Bisa juga ia dijodohkan dengan laki-laki yang sekufu’ (sebanding) dengannya, meskipun laki-laki itu sudah mempunyai istri lebih dari satu. Sebagaimana Asiyah (istri Fir’aun) dan Maryam binti ‘Imran, ibunya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, akan dinikahkan di Surga dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang tidak ada yang pantas menjadi pendampingnya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tafsiir Ibnu Katsir, 4/495 pada surat at-Tahrim, Tafsiir al-Qurthubi, 18/170, dan Fathul Qodir, 4/231)

Hisyam ibn Khalid rahimahullah mengatakan, “Suami masuk Neraka, namun istrinya masuk Surga, maka istrinya akan diwariskan kepada ahli Surga sebagaimana istri Fir’aun diwarisi oleh ahli Surga.” (At-Tadzkiroh, 461 dan Faidhul Qadir, no. 7989)

Jika Wanita Menikah Lebih Dari Satu Kali

Pembaca rahimakumullah, jika seorang wanita sholihah ditinggal mati suaminya, kemudian ia menikah lagi, maka dia untuk suaminya yang terakhir, sebagimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 اَلْمَرْأَةُ ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا

 “Istri itu untuk suaminya yang terakhir.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, 7/70, dan dinilai shohih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada istrinya, “Jika engkau berkeinginan menjadi istriku di Surga, maka janganlah menikah lagi setelah kematianku. Karena seorang wanita di Surga itu untuk suaminya yang terakhir di dunia. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengharamkan istri-istri Nabi untuk menikah lagi setelah beliau wafat, dikarenakan mereka adalah istri-istri beliau di Surga.” (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ummu Darda’, Hujaimah binti Hayy Al-Aushabiyyah radhiyallahu ‘anha ketika dilamar oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, dia menolak dan berkata, “Saya mendengar Abu Darda’ mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 اَلْمَرْأَةُ فِي آخِرِ أَزْوَاجِهَا – أَوْ قَالَ : ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا

 “Istri itu untuk suaminya yang terakhir”,  maka saya tidak ingin mengganti Abu Darda’ dengan yang lain. (As-Silsilah Ash-Shohiihah, no. 1281).

Ada sebagian ulama kita yang berpendapat bahwa wanita itu untuk suaminya yang paling bagus akhlaknya, atau dia disuruh memilih salah satu diantara suaminya itu. Pendapat ini adalah pendapat yang bagus tapi tidak ada dasarnya. Sedangkan hadits (yang artinya): “Ia untuk suami yang paling bagus akhlaknya..” maka ini adalah hadits yang dho’if (lemah). (Ibnul Qayyim dalam Hadil Arwah: 158, Al-Qurthubi dalam at-Tadzkirah, tahqiq Hamid Ahmad Thahir: 460).

Mengapa Wanita Tidak Diiming-imingi Dengan Suami Di Surga?

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala mengiming-imingi kaum laki-laki dengan menyebutkan bidadari dengan segala kecantikan dan keindahannya. Kenapa untuk wanita, Allah tidak mengiming-imingi mereka dengan laki-laki di Surga? Pertanyaan ini bisa dijawab sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ (23)

 “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).

Akan tetapi, tidak ada masalah jika kita berusaha mencari hikmah dan mengambil faedahnya. Dan diantara hikmahnya adalah sebagai berikut:

Pertama, sesungguhnya termasuk tabiat wanita adalah sifat malu. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala tidak mengiming-imingi mereka dengan sesuatu yang mereka merasa malu terhadapnya.

Kedua, sesungguhnya kerinduan laki-laki terhadap wanita tidaklah sama dengan kerinduan wanita terhadap laki-laki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.

 “Tidaklah aku tinggalkan sebuah fitnah (cobaan) setelahku yang lebih berbahaya terhadap kaum laki-laki melebihi fitnahnya kaum wanita.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4706).

Kerinduan terbesar laki-laki adalah kepada wanita. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menyebutkan ada isteri-isteri di Surga dengan segala keindahannya agar mereka mau mencari di sana. Allah Ta’ala berfirman:

                                                                                  وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ (25)

 “Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci…” (QS. Al-Baqarah: 25)

Yakni suci dari segala macam aib dan kekurangan. Mereka disifati dengan suci akhlaqnya, suci tubuhnya (tidak ada lagi haidh, nifas, air ludah, atau bau yang tidak sedap), suci lisannya dan sangat sopan tutur katanya, suci pandangannya (menjaga pandangannya dan hanya melihat kepada suaminya saja), serta sempurna kecantikannya. (Diringkas dari Tafsiir al-Kariim ar-Rahmaan, surat al-Baqarah: 25).

Bahkan Allah juga menyediakan bidadari-bidadari yang cantik di sana, yang sama sekali belum pernah disentuh oleh jin dan manusia.

Adapun wanita, maka kerinduan mereka adalah kepada perhiasan yang berwujud pakaian dan perhiasan. Kerinduan mereka kepada perhiasan mengalahkan kerinduannya kepada laki-laki.

Ketiga, Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan para istri untuk para suami dikarenakan suamilah yang mencari dan menginginkan hal itu, (bukan sebaliknya).” (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 219).

Oleh karena itulah, dalam masalah melamar seorang gadis, apabila gadis itu ditanya kemudian diam saja, maka diamnya itu adalah jawaban setuju. Hal ini karena wanita itu memiliki tabiat berupa sifat malu.

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, sahabat dan umat beliau sampai hari Kiamat.

Sumber : Buletin at-Taubah, edisi ke-40

Posted in Uncategorized | Comments Off

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim

Ada sebuah cerita menarik dari seorang dosen UGM sebut saja Bapak Pujo. Beberapa tahun ini keluarga Bapak Pujo, ia selalu mencari anak-anak yatim atau keluarga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya. Mereka meminta ibu mertua saya untuk mendapatkan beberapa orang yang akan mereka bantu, dengan sedikit rezeki yang didapatkannya. Katanya, “Bu, saya ada sedikit rezeki, tolong saya dicarikan anak-anak yatim yang kurang mampu. Saya ingin memberikan biaya sekolah padanya. Tetapi Bu, jangan bilang kalau pemberian ini dari saya, ya !”

Alhasil, ada seorang anak yatim masih duduk di sekolah dasar, ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang buruh cucian. Rencananya, Bapak Pujo akan membantu melunasi biaya sekolah anaknya.

Suatu ketika ibu mertua saya memberikan amplop yang berisi sejumlah uang, kemudian terdengar ucap syukur tiada henti dari ibu pencuci ini, “Alhamdulillah ternyata masih ada orang yang peduli sama keluarga saya.”

“Lalu orang yang menolong saya ini, siapa Bu?” tanyanya penasaran. “Pokoknya ada orang yang membantumu,” jawab ibu mertua saya.

Alasan, kenapa keluarga Bapak Pujo tidak mau mengungkapkan identitasnya, karena merkea tidak ingin orang yang telah dibantunya berkunjung, sambil membawa sesuatu sebagai tanda terima kasih. Bukankah kebiasaan seperti ini sudah membudaya di masyarakat kita. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjadi bahan pembicaraan tetangga yang lain.

Tetapi setelah sekian lama ibu buruh pencuci pakaian itu mengetahui bahwa keluarga Bapak Pujo lah yang membantunya. Maka mereka pun datang ke rumahnya. “Bapak Pujo, ternyata selama ini keluarga Bapaklah yang mencukupi kebutuhan sekolah anak saya, kami mengucapkan banyak terima kasih, “katanya. “O, semua itu pemberian dari Allah SWT, saya hanya sebagai perantara dan rezeki itu memang sebagian milik anak-anak yatim dan fakir miskin. Jadi bersyukurlah kepada Allah SWT” katanya.

Keluarga Bapak pujo sadar akan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa di hari kiamat, ada beberapa orang yang akan bangkit dari kubur dalam keadaan api menyala di wajah mereka. Maka seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Maka Rasulullah membacakan firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An Nisa:10).

“Maka sebenarnya sebagian harta kami adalah milik fakir miskin dan anak-anak yatim. “katanya kemudian sambil mempersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari kejadian inilah, keluarga ibu pencuci pakaian itu semakin dekat dengan keluarga Bapak Pujo, dan Alhamdulillah keluarga Bapak Pujo bisa mengajaknya untuk selalu dekat dengan Allah. Yaitu melalui pengajian-pengajian yang sering diadakan di rumahnya. Selain siraman ruhani, hubungan silaturahmi diantara kedua keluarga itu pun semakin terjalin erat.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang yang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang seorang ahli ibadah yang kikir.” (HR. Tirmidzi, Misykiat).

Sekarang, kebiasaan bershodaqoh dengan membiayai anak-anak yatim pun merambah tidak hanya tetangga sekitar, orang-orang di luar lingkungannya pun dengan seijin Allah telah dibantunya. Dan ternyata selama mereka membantu anak-anak yatim dan fakir miskin. do’a-do’anya pun begitu mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Usahanya mengelola Koperasi Serba Usaha Dosen UGM begitu berkembang pesat, usaha angkutan pedesaan semakin bertambah armadanya, rumah yang dulunya sempit sekarang begitu megah, dan usaha bakpianya pun berkembang pesat.

Itulah hasil jerih payah usahanya selama ini, disertai dengan do’a-do’a para kaum fakir miskin dan anak-anak yatim menjadikannya dekat dengan Allah SWT, dan dekat dengan pintu rezeki-Nya yang penuh barokah.

by: Admin LSIK UNIMUS

Posted in Uncategorized | Comments Off

Sholat Idhul Adha 1435 H dan Penyembelihan Hewan Qurban

Sholat Idhul Adha 1435 H dan Penyembelihan  Hewan Qurban

Alhamdulillah, berkat  ijin dan ridla Allah SWT. Semata. kegiatan Penyelenggaraan Sholat Idul Adha 1435 H dan Penyembelihan  Hewan Qurban telah dilaksanakan pada jam: 06.15 pagi  hari, Sabtu Legi tanggal 10 Dzulhijjah 1435 H, bertepatan dengan tanggal 4 Oktober 2014 Masehi. Bertempat di Halaman Rektorat UNIMUS Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang. Bertindak sebagai Imam dan Khotib pada pagi hari adalah Bapak Drs. H. Hamzah Rifki  terlaksana dengan baik, lancar, padat jama’ah serta penuh khusyu’, Pada kesempatan ini khotib mengajak seluruh jama’ah bahwa dengan penyembelihan binatang ternak untuk qurban kita jadikan simbol untuk bersihkan hati dan aliran darah kita dari nafsu-nafsu kebinatangan, nafsu bahimiyah yang akan menjadikan kita sangat jauh tersesat dan tergelincir dari martabat kemanusiaan kita yang telah Allah muliakan dengan ungkapkan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا  [الإسراء/70]

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ibadah qurban merupakan ibadah yang disyariatkan berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi; yang jelas bahwa ibadah qurban itu diperintahkan oleh Allah SWT. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan engkau (Muhammad) ni’mat yang banyak, maka shalatlah kamu karena Tuhanmu dan sembelihlah (kurbanmu)”(Q.S.Al-Kautsar:1-2)  menurut pendapat Imam As-Syafi’i, Malik dan Ahmad bahwa hukum qurban adalah Sunnah Muakkadah. Pendapat mereka didasarkan pada dalil hadits Nabi. Hikmah berqurban antara lain:

1. Sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang telah memberikan ni’mat yang banyak kepada kita,

2. Menghidup suburkan Sunnah Nabi Ibrahim as.,

3. Bagi orang yang beriman kepada Allah, dapat mengambil pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim as, yaitu:

a. Kesabaran Nabi Ibrahim dan putranya Ismail as ketika keduanya menjalankan perintah Allah.,

b. Mengutamakan ketaatan kepada Allah dan mencitaiNya dari mencintai dirinya dan anaknya.,

4. Sebagai realisasi ketaqwaan seorang kepada Allah.

 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) sebagai salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki peran penting dan tanggungjawab yang besar terhadap fungsi terciptanya lingkungan kampus yang islami lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebut. Kegagalan terhadap fungsi di atas, akan berpengaruh terhadap peran dan fungsi dakwah Persyarikatan Muhammadiyah dalam kancah keumatan dan kebangsaan.

Tahun ini UNIMUS bekerjasama dengan PCM TEMBALANG menyembelih 5 ekor sapi dan 10 ekor kambing, yang berasal dari karyawan UNIMUS sendiri, IMM UNIMUS dan juga dari masyarakat sekitar Jl. Majapahit-Tembalang dan sumbangan dari Instansi Lembaga Keuangan Perwakilan LAZNAS BSM PT. Bank Syariah Mandiri KCP Semarang Timur. Daging qurban sebanyak 1370 bungkus insya Allah ditasyarufkan/dibagikan kepada warga yang berada di sekitar lingkungan PCM Tembalang dan Rektorat kampus UNIMUS yaitu di area Kedung Mundu, Wonodri, Tandang, Palebon, Pedurungan, Meteseh, Bulusan, Sendangmulyo, Sinarwaluyo, Sendangguwo, Watukebo, Jangli, Sambiroto, Amposari, Mranggen, Bangetayu, Krapyak, Sampangan, Mangunharjo, Karanggawang Barat, Wanamukti, Pucang Gading, Telogosari serta saudara-saudara kita yang membutuhkan. Penyembelihan hewan qurban dilaksanakan setelah Sholat Ied pada pukul 08.30 WIB. Penyembelihan diawali secara simbolis oleh Bapak Kepala LSIK UNIMUS Rohmat Suprapto, S.Ag., M.Si dan Rektor UNIMUS Prof. Dr. H. Djamaluddin Darwis, MA dengan menyembelih hewan qurban pertama serta rangkaian acara peliputan oleh PERS. Secara singkat ketika ditemui beliau juga mengucapkan Selamat Hari Idul Adha 1435 H. Semoga hikmah dan berkah-Nya dapat kita tiru dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amien.

Posted in Uncategorized | Comments Off

KHUTBAH IDUL ADLHA 1435 H.

KHUTBAH IDUL ADLHA 1435 H.

Oleh: Drs. H. Hamzah Rifki

IDUL ADLHA : KETUNDUKAN TOTAL KEPADA TUHAN

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعه بالهدى الى يوم الدين أَمَّا بَعْدُ

أَيًّهَا اْلحَاضِرًوْن رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ  وَاتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَر اللَّهُ أَكْبَر،  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

وَقَالَ اللهً تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : اعوذ بالله من الشيطان الرجيم (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [الحج/34]

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat dan karuniaNya yang tak mungkin kita dapat menghitung dan merincinya walaupun kita saling bantu dan saling tolong satu dengan yang lain, bahkan dengan alat hitung secanggih apapun, pasti kita tidak akan mampu menghitung, mengkalkulasi dan merinci nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Terutama nikmat hidayah Iman dan Islam yang sampai dengan detik ini masih Allah karuniakan dalam diri kita masing-masing, ia merupakan nikmat terbesar nikmat yang menjamin kesejahteraan kita, baik di dunia bahkan di akhirat. Kalau nikmat-nikmat yang lain setiap saat bisa datang dan bisa pergi, harta benda misalkan suatu saat kita punya di saat yang lain dia rusak atau hilang, jabatan suatu saat kita punya suatu saat harus kita lepaskan, keluarga pun demikian, anak, istri, suami atau siapapun sekarang yang ada di sisi kita suatu saat pasti akan meninggalkan kita atau kalau tidak, tentu kita yang akan meninggalkannya. Namun iman dan Islam yang telah didatangkan Allah SWT dalam hati kita jangan pernah sekalipun dan sedetikpun pergi dan hilang dari diri kita. Sebab siapa tahu saat iman dan Islam kita pergi walau sejenak justru ajal saat itu datang menjemput kita. Na’uudzu billaahi mindzalik. Kita mesti selalu tanamkan dalam-dalam di hati kita wasiyat Allah SWT:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

”Jangan kamu mati kecuali (saat mati) kamu adalah orang-orang Islam” sudah barang tentu dalam pengertian muslim yang sebenar-benarnya, yaitu orang yang senantiasa tunduk, patuh kepada segenap ketentuan Allah dengan menegakkan dan menjunjung tinggi agamaNya yaitu Islam serta mewujudkannya dalam perilaku dalam seluruh relung kehidupannya, kapanpun dan dimanapun.

Oleh karena itu marilah kita syukuri dengan menjaga secara sungguh-sungguh keistiqamahannya bahkan kita tingkatkan kualitasnya sampai saatnya nanti masing-masing kita dipanggil kembali oleh Allah SWT, entah kapan waktunya, entah dimana tempatnya, entah bagaimana caranya, yang kesemuanya itu hanya Allah yang mengetahui.

Nikmat-nikmat Allah yang lain, mari kita syukuri dengan mendayagunakannya untuk berbakti, mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT. dan Allah SWT telah menjanjikan :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ  [إبراهيم/7]

“Sungguh jika kamu bersyukur, pasti aku tambahkan untukmu (nikmat), dan sungguh jika kamu ingkar dan tidak mau bersyukur, (ketahuilah) sesungguhnya siksaKu sungguh dahsyat dan keras”

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Pada saat ini ribuan bahkan jutaan saudara seiman kita, yang sedang bertamu kepada Allah, para Haji yang datang dan berasal dari seluruh penjuru bumi sedang bergerak dari Muzdalifah menuju ke Mina untuk melanjutkan manasik haji mereka melontar jumrah aqabah dan thawaf ifadlah setelah kemarin wukuf di Arafah lalu semalam mabit di Muzdalifah, seluruhnya menyatu dan luruh dalam gelombang ketundukan dan kepasrahan terhadap apapun ketentuan Allah. Mereka tidak sedang bersenang-senang, tidak sedang bertamasya, piknik memanjakan hawa nafsunya, tidak. Melainkan mereka sedang asyik dalam rengkuhan Tuhan, pelukan Allah. sehingga meskipun dalam balutan pakaian yang kusut dan lusuh berdebu, kelelahan yang dahsyat, walaupun mereka dihajar oleh terpaan panasnya siang di Padang Arafah serta dinginnya malam di hamparan pasir Muzdalifah, mereka tidak peduli, dari bibir mereka selalu terucap:

“لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ، لَا شَرِيكَ لَكَ”

“Sendiko dawuh Ya Allah, kami siap penuhi titahMu ya Allah, tiada sekutu bagiMu, sesungguhnya semua pujian dan nikmat adalah milikMu begitu pula kekuasaan. Tiada sekutu bagiMu”

Maa syaa’allaah, siapapun yang pernah merasakan lezatnya rengkuhan Allah di tanah suci Makkah al Mukarramah, pastilah merindukan dan ingin kembali merasakan kelezatannya. Merasakan haru birunya begitu dekat dengan Allah.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kita disini dan jutaan umat Islam yang lain yang tidak sedang menunaikan ibadah Haji berduyun-duyun datang ke mushalla, ke masjid atau ke tanah yang lapang, kalau Rasulullah SAW dulu selalu ke tanah lapang yang disebut mushalla kecuali saat tanah basah karena hujan untuk menyebut-nyebut nama dan keagungan Allah, dengan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid menunaikan shalat iedul Adlha sebagaimana Rasulullah SAW tuntunkan:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّي ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا (رواه البخارى ومسلم)

Dari Bara’ bin Azib: Rasulullah SAW SAW bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kita lakukan pada hari ini (yaumun nahr) adalah kita shalat, kemudian kita pulang lalu menyembelih kurban, maka siapapun yang melakukan demikian berarti dia telah sesuai dengan tuntunan kita”. (HR Bukhari dan Muslim)

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Allah SWT telah menginformasikan kepada kita bahwa seluruh umat manusia, dari umat Nabi Adam, umat nabi Idris, nabi Nuh dan seterusnya sampai dengan umat Musa, Isa, dan terakhir umat Muhammad SAW Allah SWT telah mensyari’atkan Qurban, upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan penyembelihan binatang, sebagaimana firman yang telah saya bacakan dalam mukaddimah :

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم (وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ [الحج/34]

” Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (QS Al-Hajj :34).

Dan kinipun kita dapat saksikan bahwa seluruh agama, apapun namanya, dimanapun, pasti ada syari’at atau ajaran penyembelihan kurban, termasuk agama di masyarakat jawa yang dikenal dengan agama kejawennya bahkan masyarakat yang masih primitifpun pasti ada upacara keagamaan dalam bentuk penyembelihan kurban. Inilah bukti kebenaran firman Allah tersebut. Hanya saja di semuanya itu tidak lagi seperti yang apa yang disyariatkan Allah. Betapa tidak? Pada asalnya syariat Allah tentang kurban dilakukan untuk menyebut-nyebut asma Allah, mensyukuri nakmat-nikmatNya, tetapi mereka jadikan kurban sebagai bentuk media penebusan dosa, media permohonan rejeki dan penjagaan keselamatan untuk tolak bala’ dlsb. Kurban tidak dipersembahkan kepada Allah atau untuk Allah, tetapi dipersembahkan dan ditujukan kepada ruh-ruh leluhur, kepada para danyang dan dedemit. Kesemuanya itu adalah penyimpangan dan penyelewengan dari syari’at Allah bahkan sudah tercerabut dari akarnya yaitu asalnya ibadah kepada Allah, berganti menjadi ibadah kepada selain Allah. Inilah kesyirikan yang sangat dilarang dalam Islam. Namun bagaimanapun kita harus toleran dan biarkan mereka memegangi apa yang mereka yakini.

Untuk itulah dan karena itulah Allah mengutus Nabi Muhammad dengan membawa agama yang haq untuk meluruskan kembali segala bentuk penyimpangan penyembahan kepada Allah SWT.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Setiap Iedul Adlha atau iedul qurban atau yaumun nahr (hari penyembelihan kurban) tentu kita menjadi teringat peristiwa fenomenal dan luar biasa yang mestinya kita ambil hikmah dan kita jadikan teladan. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Q.S Ash-Shaffat 100-102

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ  [الصافات/100-102]

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

101. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (Ismail)

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ayat tersebut menceritakan Nabi Ibrahim sebagai manusia biasa sangat ingin memiliki anak sebagai penerus keturunannya, dan siapapun pastilah memiliki keinginan sepeti itu. Maka dengan segenap kesungguhan dia meminta kepada Allah, sebuah permintaan sederhana namun esensial dan sangat vital yaitu anak yang shaleh, bukan anak yang pandai, anak yang gagah, tampan, cantik rupawan, kaya, canggih, sukses, bukan. Tetapi anak yang shaleh, anak yang baik. Lalu Allah berikan kepada Ibrahim anak yang baik budinya, halus pekertinya Ismail.

Namun ketika Ismail telah berumur cukup untuk bisa membantu dia berusaha datanglah perintah Allah tuhannya melalui mimpinya, sebuah perintah yang sulit untuk bisa dipercaya, perintah yang musykil. Betapa tidak? Perintah untuk menyembelih anak yang telah sangat lama ia dambakan dan ia cintai. Orang tua mana yang akan sanggup melakukannya? Subhanallah, Ibrahim manusia pilihan yang hidupnya diorientasikan hanya untuk Allah persis dengan pernyataan “Innaa shalaatii wanusukii wamahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah tuhan semesta alam). Dan yang tergambarkan pada Ismail sang anak tidak kalah menakjubkannya. Ketika Nabi Ibrahim bapaknya menyampaikan informasi tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, tanpa keraguan dan dengan penuh keteguhan dia nyatakan”Wahai ayah lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insyaallah engkau akan mendapati aku termasuk mereka yang sabar”. Bukan main

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat iedul Adlha rahimakumullah,

Apa sesungguhnya kata kunci peristiwa menakjubkan itu? Tidak lain adalah apa yang terungkap pada pernyataan Ismail sang anak ”satajidunii insyaallah minash shabirin” Sabar, apa sabar itu ? sabar adalah ketegaran yang dilatar-belakangi adanya kesadaran bahwa kita adalah milik/kepunyaan Allah, dan kita pastilah nanti akan kembali kepada Allah. Kesadaran yang sering kita ucapkan tanpa kesadaran

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

”Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita pasti kembali kepadaNya”

Kesadaran inilah yang mendorong Ibrahim harus rela anaknya diminta kembali oleh Allah sang pemilik yang haq bahkan dengan cara menyembelih dengan kedua tangannya sendiri sekalipun. Demikian pula Ismail, kesadaran bahwa dirinya adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada Allah, maka apapun kehendak dan ketentuan Allah atas dirinya tentulah akan dia terima dengan rela hati walaupun dia harus kembali kepada Allah melalui cara disembelih orang tuanya atas perintah Allah, toh kalau pun tidak dengan cara demikian, Allah pasti akan carikan cara yang lain.

Hadlirin jamaah shalat Iedul Adlha rahimakumullah.

Bila Ibrahim berani berikan untuk Allah apa yang sangat ia cintai, yaitu Ismail anaknya. Demikian pula Ismail yang masih muda belia, yang masih senang-senangnya akan kenikmatan dunia berani berikan jiwanya untuk Allah. Lalu apa yang kita berani berikan untuk Allah Setelah sekian banyak nikmat Allah berikan kepada kita? Bukankah begitu entheng dan ringan kita ucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”? Benarkah kita merasa sebagai milik Allah? Benarkah kita sadar bahwa apapun yang kita miliki itu berarti milik Allah? Dan relakah kita bila setiap saat Allah berhak meminta kembali milikNya?

Alhamdulillah, Allah tidak memerintahkan kepada kita sebagaimana Allah perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail. Allah hanya perintahkan kita mengikhlaskan untuk menyembelih kurban berupa binatang ternak untuk Allah, karena Allah. Allah hanya perintahkan kita luangkan sedikit waktu untuk shalat menghadap kepadaNya dan Allah hanya perintahkan kita sisihkan sedikit dari harta kita untuk zakat dan shadaqah. Allah perintahkan kita menunaikan ibadah Haji, itupun bagi yang mampu. Selebihnya, ketentuan-ketentuan Allah semuanya hanya untuk kebaikan kita sendiri. Hanya orang bodoh yang berlagak pintarlah yang menolak ketentuan Allah dan menganggapnya sebagai pengekangan.

Marilah kita selalu ingat sentilan Allah:

{وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ (52) وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ } [النحل: 52، 53]

52. Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?

53. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan

Dan mari kita didik, kita bina putra-putri kita menjadi manusia-manusia yang senantiasa sadar bahwa dirinya adalah milik dan kepunyaan Allah dan sadar bagaimana bersikap dengan benar terhadap pemiliknya yaitu Allah SWT, dengan senantiasa tunduk dan patuh mengikuti ketentuan-ketentuan Allah yang pasti untuk kebaikan manusia.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Dalam ibadah qurban ini semestinya pula kita pahami bahwa Allah tidak memerintahkan kepada kita hanya sekedar menyembelih binatang ternak dan pesta pora menikmati sembelihan tanpa makna apapun. Allah tidak butuh daging, kepala maupun darah kurban seperti sesembahan-sesembahan selain Allah sebagaimana yang biasa terjadi dan menjadi adat istiadat masyarakat kita. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ [الحج/37]

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.

Dengan ibadah kuban ini, di samping Allah menguji sejauh mana ketaqwaan kita kepada Allah, sejauh mana ketundukan kita kepada ketentuan-ketentuan Allah, Allah juga memberikan isyarat dengan penyembelihan binatang itu agar kita juga menyembelih, mengalirkan dan membuang kotoran dari diri kita nafsu-nafsu kebinatangan. Karena nafsu-nafsu kebinatangan inilah yang menjadikan banyaknya manusia  menjadi penghuni neraka jahannam sebagaimana firman Allah dalam surat Al A’raf 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [الأعراف/179]

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Iedul Adlha rahimakumullah

Allah menginformasikan kepada kita bahwa banyak diantara jin dan manusia yang kelak dicampakkan ke neraka jahannam. Mereka adalah orang-orang yang telah dikaruniai hati tapi tidak mereka gunakan untuk merasa, mati rasa, tidak ada lagi rasa malu, hati yang gelap gulita dan tidak dapat menerima cahaya hidayah Allah. Mereka punya mata tidak mereka gunakan untuk melihat, seolah-olah buta terhadap kenyataan di pelupuk mata mereka, padahal Allah banyak memberikan petunjuk melalui kejadian-kejadian di depan mata mereka. mereka memiliki telinga tapi tidak pernah mereka gunakan mendengar, seperti orang tuli yang tidak dapat mendengar suara adzan, pembacaan ayat suci al-Qur’an, mauidhoh nasihat dan pelajaran dari para ulama dan mubaligh seolah-olah angin lalu dan tidak ngefek sama sekali. Maa syaaallah wa na’uudzubillaahi min dzaalik. Mereka hanya memperturutkan hawa nafsunya, persis binatang ternak yang hidupnya digerakkan oleh hawa nafsunya, tanpa akal dan hati, tidak hirau mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Mereka tidak hirau mana-mana yang harus dilakukan, mana-mana yang boleh dilakukan dan mana-mana yang tidak boleh dilakukan. Dan kata Allah bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak itu.

Maka marilah dengan penyembelihan binatang ternak untuk qurban kita jadikan simbol untuk bersihkan hati dan aliran darah kita dari nafsu-nafsu kebinatangan, nafsu bahimiyah yang akan menjadikan kita sangat jauh tersesat dan tergelincir dari martabat kemanusiaan kita yang telah Allah muliakan dengan ungkapkan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا  [الإسراء/70]

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan semoga memberi manfaat bagi kita semua dan menjadikan kita orang-orang yang senantiasa lurus istiqamah dalam ketundukan dan kepatuhan di jalan Allah shiraathal mustaqim dan saatnya nanti Allah sampaikan kepada kita ungkapan indah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي [الفجر/27-30]

marilah kita berdo’a kepada Allah semoga Allah yang maha mendengar berkenan mendengar do’a kita:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اللهم صل على محمد عبدك ورسولك وعلى اله وصحبه ومن تبعه بالهدى الى يوم الدين وبارك لنا معهم برحمتك يا ارحم الراحمين

Allahumma Ya Allah, kami bersyukur telah kau berikan umur panjang sehingga kami dapat menambah-nambah amal ibadah kami, sekaligus kami dapat kesempatan bertobat dan memohon ampunanMu,

Ya Allah, ampunilah semua dosa kami, kami sadar banyak perintah-perintahMu yang belum dapat kami laksanakan, sebaliknya masih banyak larangan-laranganMu yang justru kami kerjakan, kami banyak lalai ya Allah dan kami sering meremehkan agamaMu ya Allah, ampunilah kami ya Allah.

Ampunilah pula ibu bapak kami yang telah memelihara, merawat dan mendidik kami dari kami yang terlahir dalam keadaan telanjang dan bodoh, merekalah yang telah menutupi aurat kami dan menjadikan kami pintar dan cakap seperti sekarang ini, sayangilah mereka, seperti halnya mereka telah mencurahkan segenap kasih sayangnya untuk kami. Kami mohon kepadaMu ya Allah, berikan dan balaslah untuk mereka dengan yang lebih baik. Jadikanlah kebaikan-kebaikan kami sebagai kebaikan mereka pula. Berikanlah pahala untuk mereka atas setiap kebaikan yang kami lakukan.

Allahumma Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang shalih dan shalihah yang senantiasa menegakkan shalat, jadikan mereka anak-anak yang dapat kami banggakan di sisiMu karena kesalihannya, yang senantiasa memberikan tambahan pahala untuk kami di sisiMu atas kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan karena kami telah mendidik mereka agar senantiasa beriman kepadaMu dan beramal shalih, jangan jadikan mereka fitnah bagi kami disisiMu. Jadikanlah mereka orang-orang yang benar-benar bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat serta agamanya.

Allahumma ya allah, karuniailah kami, negeri kami para pemimpin dan pemegang amanah yang benar-benar menyadari bahwa dipundak mereka adalah tanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat yang suatu saat akan mereka pertanggung jawabkan disisiMu

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Posted in Uncategorized | Comments Off

Syarat-syarat Diterimanya Do’a

Syarat-syarat Diterimanya Do’a

Do’a dipastikan tidak ditolak manakala dalam berdo’a itu bisa menghadirkan hati, bisa menyatukan  dengan yang diminta dan menepati waktu-waktu yang mustajab 6 (enam) waktu, yaitu: sepertiga malam yang akhir, ketika adzan, antara adzan dan iqamat, sesudah shalat maktubah (wajib), ketika imam naik mimbar di hari Jum’at sampai selesai shalat, akhir waktu sesudah shalat Ashar hari Jum’at, dilakukan dengan khusyuk, bersimpuh di hadapan Tuhan, rendah diri, tadharru’, lemah lembut, menghadap kiblat, dalam keadaan suci, mengangkat tangan, memulai dengan pujian Allah, shalawat kepada Nabi, mengajukan permintaan hajatnya dibarengi dengan bertaubat dan istighfar, serius dalam meminta, disampaikan dengan rasa cinta dan takut, tawassul dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan mengesakan-Nya. Do’a itu akan dikabuklkan, terutama jika bertepatan dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai maqam mustajab, atau permintaan itu masuk dalam kandungan nama Allah yang Agung.

Posted in Uncategorized | Comments Off

Kisah tiga orang di dalam gua, bertawassul dengan amalan saleh

Dalam kehidupan masyarakat Islam Indonesia, sering kita saksikan adanya praktek tawasulpada ruh ahli kubur. Misalnya di kubur/makam wali songgo, kuburan orang-orang shalih, dan yang dianggap keramat atau memiliki kharisma tertentu.

Tujuan ziarah kubur bukan untuk mengingat mati atau mendo’akan  ahli kubur, melainkan berdo’a, memohon keselamatan dan keberkahan kepada arwah kubur, atau memohon kepada Allah melalui  ruh (jamak=arwah) ahli kubur tersebut.

Umumnya masyarakat melakukan ritual seperti ini karena merasa dirinya banyak dosa sehingga do’anya tidak terkabul. Karena itu ia minta bantuan (bertawasul) kepada ruh ahli kubur orang-orang shalih itu, untuk melangsungkan permohonannya kepada Allah swt. Ritual ini kemudian dikenal dengan istilah TAWASUL/ber-WASILAH yang artinya

perantara atau penyambung lidah (Jawa : Makelar).

Dalil yang dijadikan pedoman tawasul kepada ruh ahli kubur adalah firman Allah dalam QS 5 / Al-Maidah ayat 35 di atas, yang diartikan : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada-Nya, dst…”

Kenapa harus pada ruh ahli kubur…? ya…, karena do’a orang-orang shalih ahli kubur itu diyakini mudah terkabul (manjur), maka dijadikannya sebagai wasilah, perantara do’a / hajatnya kepada Allah swt.

Kan sudah mati… masak bisa mendo’akan yang masih hidup?. Bisa saja, jawab mereka yang bertawasul. Bukankah arwah syuhada’ itu tetap hidup. Kalau nggak percaya, silakan baca firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 154.

BAGAIMANA MAKSUD SEBENARNYA

Jika kita mencermati terjemahan al-Qur’an oleh Depag RI, maka ayat ke 35 dari surat al-Maidah di atas, diartikan sebagai berikut : ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri  kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Menurut terjemahan Depag ini, Wasilah diartikan jalan yang mendekatkan diri (kepada Allah, pen). Sedang menurut ahli tafsir (Mufassir), wasilah diartikan lebih detail lagi yakni,   اي تقربوا الى الله بطاعته والعمل بما يرضيه Mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan apa yang dapat menghadirkan ridlaNya (baca Tafsir Ibnu Katsir (al-Qur’an al-Azhim) juz 2 halaman 52 & at-Tafsir al Muyassar halaman 113 ).

Adapun yang dimaksud ayat 154 dari al-Qur’an Surat al-Maidah adalah : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Pengertian hidup dalam ayat di atas adalah “hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini (dunia), di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup (mereka)itu.” Demikian penjelasan Depag RI dalam al-Qur’an dan Terjemahnya.

Oleh karena itu ruh mereka (syuhada’) sudah tidak bisa lagi berhubungan apalagi membantu hajat orang-orang yang masih hidup. Bukankah Nabi saw. telah menegaskan: ” Apabila anak Adam (manusia) telah mati, terputuslah amalnya kecuali 3 hal, Shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang medo’akannya”.

Perintah berziarah kubur dalam Islam, bukan untuk meminta bantuan agar ruh kubur dapat mendo’akan, apalagi meminta keselamatan, syafaat dan berkah kepadanya. Karena itu perbuatan syirik, dosa terbesar yang tidak terampunkan (QS. 4:116) dan dapat menghapus seluruh amal kebajikan. (QS. 6 :88 dan QS. 39 : 65).

Tujuan ziarah kubur adalah untuk mendo’akan para ahlinya sekaligus untuk mengingat kematian. Sementara yang bisa mengabulkan do’a manusia, baik yang banyak dosa maupun yang terjaga dari dosa, hanyalah Allah semata. seperti janji-Nya :  “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. 40/ Ghafir/Al-Mu’min : 60).

Para Nabi, Shahabat, Tabi’in, Ulama’ Wali, apalagi kyai yang sudah mati, sama sekali tidak bisa mengabulkan do’a atau permohonan manusia, sekecil apapun. Oleh karena itu jangan pernah tawasul apapun pada arwah mereka.

CONTOH TAWASUL YANG BENAR

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.  dari Rasulullah saw. beliau bersabda, Ketika tiga orang sedang berjalan, tiba-tiba turun hujan. Mereka berteduh di dalam gua di sebuah gunung. Mendadak mulut gua itu tertutup oleh sebuah batu besar, sehingga mereka terkurung. Satu sama lain mengatakan, Ingatlah semua amal baik yang pernah kamu lakukan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan amal-amal itu. Semoga Allah akan menolong kesulitan kita ini. Salah seorang mereka mengatakan, Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku punya dua orang tua yang sudah renta. Mereka ikut keluargaku yang terdiri dari seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Akulah yang memelihara mereka. Aku biasa memerah susu buat mereka, biasanya aku utamakan kedua orang tuaku itu untuk minum terlebih dahulu daripada anak-anakku. Suatu hari karena kesibukan pekerjaanku, sore-sore aku baru pulang. dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tidur. Seperti biasanya akupun memerah susu. Aku taruh susu itu ke dalam sebuah bejana. Aku berdiri di dekat kedua orang tuaku itu, namun aku tidak mau membangunkan mereka dari tidurnya yang nyenyak. Aku juga tidak membiarkan susu itu diminum oleh anak-anakku sebelum orang tuaku, sekalipun mereka merengek-rengek di hadapanku karena lapar dan dahaga. Aku terus setia menunggui mereka dan mereka juga tetap pula tidur sampai terbit fajar. Jika Engkau tahu apa yang aku lakukan itu adalah untuk mengharap keridaan-Mu, maka tolonglah aku dari kesulitan ini, sehingga kami bisa melihat langit. Allah berkenan menolong kesulitan mereka, sehingga mereka bisa melihat langit. Yang lain segera mengatakan, Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai seorang keponakan perempuan yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang laki-laki terhadap seorang perempuan yang sangat mendalam. Aku minta supaya ia mau melayani kemauan nafsuku, tetapi ia tidak mau, kecuali kalau aku memberikan uang padanya sebanyak seratus dinar. Dengan susah payah akhirnya aku mampu mengumpulkan uang sebanyak itu. Aku datang kepadanya dengan membawa sejumlah yang ia minta tersebut. Ketika baru saja aku hendak memulai menyetubuhinya, ia berkata, Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah. Janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan terlebih dahulu. Seketika itu aku berdiri. Apabila Engkau tahu bahwa apa yang aku lakukan itu adalah untuk mencari keridaan-Mu, maka tolonglah kami dari kesulitan ini. Allah-pun berkenan menolong mereka. Terlihat batu besar itu agak terbuka lagi. Yang ketiga berkata, Ya Allah, sesungguhnya pernah aku mempekerjakan seorang pekerja dengan upah tiga sha` beras. Ketika sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata, Berikan bayaranku, tetapi aku menolaknya, sehingga dia merasa benci kepadaku. Kemudian aku terus menanami lahan yang dia kerjakan, sehingga aku mampu memiliki seekor sapi dan lahan penggembalaannya. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata, Kamu jangan menganiaya hakku. Takutlah kepada Allah. Kemudian aku katakan padanya, Ambillah sapi itu berikut dengan lahan penggembalaannya. Dia berkata, Takutlah kepada Allah, jangan menghina aku. Aku katakan, Sesungguhnya aku tidak menghina kamu. Ambillah sapi itu berikut ladang penggembalaannya. Akhirnya hartaku itu diambilnya. Jika menurut-Mu apa yang aku lakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka tolonglah kami dari kesulitan yang tinggal sedikit ini. Akhirnya Allah-pun menolong mereka 

Posted in Uncategorized | Comments Off

KEKUATAN DO’A MENGHADAPI COBAAN

KEKUATAN DO’A MENGHADAPI COBAAN

Do’a adalah pengobatan yang paling bermanfaat, do’a adalah musuh bala, do’a mengusir bala, do’a menyembuhkan penyakit, do’a bisa mencegah bencana, dan mempu menghilangkan atau meringankan bencana yang turun. Do’a adalah senjata orang yang beriman, seperti diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Sahihnya dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah Saw bersabda: “Do’a adalah senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.”

Do’a mempunyai 3 (tiga) posisi dalam menghadapi bala/bencana.

1. Do’a lebih kuat dari bencana sehingga mampu menolaknya.

2. Do’a tidak lebih kuat dari bencana, sehingga dikalahkan. Dalam keadaan seperti itu seseorang bisa terkena bencana, tetapi do’a yang diucapkan disini bisa meringankan, sekalipun posisinya lemah.

3. Do’a dan bencana sama kekuatannya, sehingga satu dengan yang lain saling beradu.

Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Aisyah r.a, Rasullah Saw bersabda:”Tidak ada artinya kekuatan orang yang sudah ditakdirkan. Do’a akan bermanfaat untuk sesuatu yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Sesungguhnya bencana akan datang kemudian disambut dengan do’a, maka keduanya saling menyerang sampai nanti Hari Kiamat.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah Saw bersabda: “Do’a bermanfaat untuk bencana yang sudah turun dan yang akan turun, maka berpeganglah pada do’a wahai hamba Allah.”

Dari Tsauban, Rasulullah Saw bersabda:”Tidak ada yang bisa menolak takdir (ketentuan) kecuali do’a, tidak ada yang bisa menambah umur kecuali kebaikan, dan sesungguhnya seseorang terhalang rezekinya sebab dosa yang menimpanya.”

Sumber: the truth of illness and healing, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Hal. 23

Posted in Uncategorized | Comments Off

BERJALAN KAKI KE MASJID

BERJALAN KAKI KE MASJID

A. Berjalan Menuju Masjid

Rasulullah saw. bersabda,

“Berikan kabar gembira kepada orang yang berjalan ke masjid ditengah kegelapan malam, dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

“Orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh jarak ke masjid, kemudian yang lebih jauh lagi.” (HR. Muslim).

 ”Akan aku tunjukkan bahwa hal yang dapat menghapus kesalahan dan diangkatnya derajat oleh Allah ialah memperbanyak langkah ke masjid.” (HR. Muslim).

“Orang yang bersuci di rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajibah pada Allah, maka kedua langkahnya itu pertama menghapus kesalahan dan kedua mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Allah swt. akan menghapus kesalahan dan mengangkat derajat orang yang berjalan ke masjid serta akan memberikan pahala yang besar dan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat atas karunia dan kemurahan-Nya. Allah juga memberikan manfaat yang sangat besar terhadap badan. Karena itu, pembahasan anggota tubuh dalam wudhu juga menjadi pembahasan anggota tubuh dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya.

B. Manfaat Berjalan Kaki ke Masjid

Berjalan kaki itu sendiri merupakan salah satu Olah Raga. para dokter umumnya menyarankan kepada para pasiennya–khususnya pasien lanjut usia serta pasien yang mengidap penyakit jantung–untuk berjalan kaki pada jarak tertentu. Berjalan kaki merupakan olah raga ringan bagi setiap orang. Manfaatnya tidak terbatas karena saat berjalan seluruh badan ikut bergerak dan bekerja.

Diantara manfaat berjalan kaki yaitu meningkatkan kekuatan tubuh, memperkuat otot, menambah elastisitas persendian, memperlancar peredaran darah, memperlebar pembuluh darah dan nadi serta memperbaiki sel-sel yang rusak. Disamping itu, berjalan mampu memperbaiki aktivitas jantung dan seluruh organ tubuh serta meningkatkan kemampuan otak dan daya ingat. Begitu pula berjalan mampu membakar lemak, menghilangkan kejang-kejang dan pegal, serta membebaskan tubuh yang  kendur.

Berjalan juga mampu menambah kekuatan otot selain juga mampu menyimpan zat-zat yang dibutuhkan ibarat bahan bakar. Oleh sebab itu, bertambah pula kekuatan tubuh untuk melakukan aktivitas dan peredaran darah menjadi lebih teratur. Dengan demikian, kadar darah yang sampai di pembuluh  organ tubuh menjadi lebih banyak. Hal ini akan menghindari kondisi kelelahan pada tubuh dan kekurangan darah pada organ tubuh.

Tubuh selalu memanfaatkan makanan yang dimakan. Adapun manfaat langsung dari berjalan kaki adalah memperlambat proses penuaan pada seseorang yang rutin melakukannya dan juga mampu menjadikan orang tersebut lebih awet muda.

C. Berjalan Kaki ke Masjid Merupakan Pengobatan Medis

Berjalan kaki ke Masjid secara rutin merupakan obat untuk berbagai macam penyakit, antara lain:

1. Penyakit Jantung

2. Obesitas (Kegemukan)

3. Asma

4. Stres

5. Borok

6. Bingung dalam Masalah Sehari-hari

7. Vitalitas dalam Bekerja

Sumber:

* Adnan Tharsyah, Keajaiban Shalat Bagi Kesehatan, hlm 62

* Muhammad Ali al-Bari, Puasa dan Kelebihan Berat Badan, hlm 48

* Koran asy-Syarq al-Ausath, edisi 3232, 12 Safat 1408 H.

Posted in Uncategorized | Comments Off

KEMUKJIZATAN ALQURAN

Aspek Kemukjizatan

Arti Mukjizat

Mukjizat (i’jaz) — sebagaimana disebutkan oleh penulis Al-Qamus–berasal dari kata a’jazahu al-syai’ (tidak mampu), a’jaza fulanan (menjadikan seseorang lemah dan tidak kuasa), dan al-ta’jiz (melemahkan dan menisbatkan sifat lemah). Mukjizat Nabi Muhammad Saw berarti semua perkara yang melemahkan musuh-musuh yang menentangnya.

Dalam Kitab Al-Tibyan dijelaskan bahwa kata i’jaz dalam bahasa Arab berarti penisbatan sifat lemah kepada orang lain.

Allah Swt berfirman sebagai berikut:

 5:31

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS Al-Maidah [5]:31).

Disebut mukjizat karena manusia tidak mampu membuat tandingan yang serupa dengannya. Sebab, mukjizat adalah hal yang tidak wajar, keluar dari hukum kausalitas yang telah dipahami. Oleh karena itu, i’jaz Alquran (mukjizat Al Quran) berarti kepastian lemahnya manusia, baik secara individual maupun kelompok, untuk membuat tandingan yang serupa dengan Alquran. Namun, mukjizat Al Quran bukan berarti membuat keadaan manusia lemah dalam pengertian yang sebenarnya, tetapi ia memberi pengertian akan kelemahan manusia untuk mendatangkan yang serupa dengan Alquran.


Posted in Uncategorized | Comments Off

Kegiatan Ramadhan 1435 H. Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah (Kompleks UNIMS)

Kegiatan Ramadhan 1435 H. Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah (Kompleks UNIMS)

ramadhan

Posted in Uncategorized | Comments Off